Entri Populer

Senin, 23 Juli 2012

Parade Pasukan Kerajaan Gowa


Parade pasukan ‘Tobarani’ yang mengusung 14 panji kebesaran Kerajaan Gowa diiringi tetabuhan gendang ‘Tunrung Pakanjara’ mewarnai upacara peresmian selesainya pekerjaan revitalisasi pengangkatan ‘Balla Lompoa,’ Senin siang, 9 Maret 2011. Balla Lompoa (Rumah Besar) ini dibangun di tengah Kota Sungguminasa tahun 1936 oleh Raja Gowa ke-35, I Mangi-mangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, sebagai istana Raja Gowa.
Museum Balla Lompoa di kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa/Ft;Abd.Madjid
Suasana peresmian terasa menjadi lebih semarak karena didahului penampilan fragmen budaya dan pembacaan sajak beraroma sejarah Kebesaran Gowa masa silam oleh Seniman Budayawan Sulsel, H.Udhin Palisuri.
”……Karampang ri Gowa tiada kuburnya, lenyap menghilang ke negeri khayangan/Tunatangkalopi dalam sukma, Gowa na Tallo, ”Se’re ata, na rua karaeng”/Tummaparrisik Kallonna pindahkan ibukota kerajaan, dari Tamalate ke Somba Opu/Tunipalangga Ulaweng, izinkan seorang melayu, Nakhoda Bonang berdiam di Gowa/Hak istimewa pedagang dari Pahang, Patani, Johor, Campa dan Minangkabau/I Mangorai Daeng Mammeta menjalin persahabatan dengan Mataram, Raja Banjarmasin, Blambangan, Raja Kepulauan Maluku, Timor, Johor, Pahang, Malaka dan Patani Thailand/I Tepu Karaeng Daeng Parabbung dipaksa rakyat turun tahta, keluar dari kerajaan Gowa/Dari Batara Guru, Karaeng Bayo, Tomanurung Bainea sampai Raja Gowa terakhir Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Laloang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aididdin/Gowa jejak sejarah/Gowa dalam sejarah/Sekarang Gowa membuat sejarah……”(Petikan puisi berjudul ‘Gowa adalah Sejarah, Gowa Buat Sejarah’ oleh H.Udhin Palisuri)
Pangdam VII/Wirabuana bersama Gubernur Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo dalam peresmian revitalisasi Balla Lompoa/Ft:Abd.Madjid
Peresmian dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, H.Syahrul Yasin Limpo didampingi adik kandungnya, H.Ichsan Yasin Limpo yang Bupati Gowa. Disaksikan Pangdam VII Wirabuana, Dan Lantamal Makassar, Kapolda Sulselbar, Muspida Sulsel, Kajati Sulsel, Bupati Bantaeng HM.Nurdin Abdullah serta sejumlah wakil dari pemerintah kabupaten/kota di Sulsel. Selain dihadiri seluruh pejabat teras di lingkungan Pemkab Gowa, anggota legislatif, para camat dan kepala desa, sesepuh, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, para keturunan sekaligus kerabat bekas Raja-raja Gowa, serta ribuan undangan dan masyarakat umum yang bebas menyaksikan upacara peresmian ini secara langsung.
Menurut Andi Kumala Andi Idjo, salah seorang anak dari Raja Gowa ke-36 (Raja Gowa terakhir), Andi Idjo Karaeng Laloang, Balla Lompoa yang berbentuk rumah panggung kayu berarsitektur adat etnis Makassar dengan luas lantai sekitar 600 meter bujursangkar tersebut, hingga tahun 1946 masih difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Dengan berakhirnya masa kerajaan pascaproklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, Balla Lompoa kemudian diserahkan untuk dikelola oleh Pemerintahan RI.
Namun menurut Bupati Gowa, H. Ichsan Yasin Limpo, nanti tahun 1977 sebutan Istana Balla Lompoa diubah disesuaikan dengan fungsinya yaitu menjadi Museum Balla Lompoa. Penggantian nama Istana menjadi Museum tersebut dilakukan pada saat mantan Raja Gowa terakhir, Andi Idjo masih hidup.
”Jadi tidak benar kalau kemudian ada pihak lain yang kemudian tampil mengklaim sebagai pemilik Balla Lompoa,” jelas Bupati Ichsan Yasin Limpo.
Sebagaimana diketahui, ketika Pemkab Gowa akan mengangkat Balla Lompo tahun 2010 lalu, beberapakali muncul demo yang menentang rencana tersebut dari orang-orang yang menyatakan diri sebagai pewaris Balla Lompoa.
Upaya pengangkatan Balla Lompoa yang bernilai Rp 2 miliar murni dari APBD Kabupaten Gowa, merupakan bagian dari pekerjaan Revitalisasi Kawasan Museum Balla Lompoa yang dilakukan oleh Pemkab Gowa sejak tahun anggaran 2009. Kawasan seluas sekitar 3 hektar berlokasi di tengah Kota Sungguminasa, ibukota Kabupaten Gowa tersebut, riwayat tanah awalnya merupakan pemberian dari ayahanda mantan Menteri Otoda, Ryas Rasyid. Di dalamnya selain berdiri ‘Balla Lompoa,’ juga sudah dibangun duplikat Istana Tamalate (bangunan istana Raja Gowa tempo dulu tapi tak ada lagi aslinya) berukuran tiga kali lebih besar dari ‘Balla Lompoa’.
Ketika dilakukan pembangunan duplikasi Istana Tamalate (dilakukan berdasarkan bentuk dan ukuran sebenarnya yang tercatat dalam catatan naskah tua Lontara) di samping kanan Balla Lompoa oleh Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulsel) saat masih menjabat sebagai Bupati Gowa, sekaligus dilakukan penataan lingkungan sekitarnya. Posisi Istana Balla Lompoa pun tampak kelihatan agak kerendahan. Dasar dari tempat tegaknya Balla Lompoa itulah yang dinaikkan sekitar 320 centimeter, ditata dalam bentuk pelataran berlantai marmer sehingga Balla Lompoa kini tampak anggun bersanding dengan bangunan duplikasi Istana Tamalate.
”Kami merasa sangat berbahagia sekaligus bangga dengan keberhasilan meninggikan Balla Lompoa tanpa merusak satupun bagian dari benda cagar budaya tersebut. Dalam proyek revitalisasi Museum Balla Lompoa kami sama sekali tidak mengubah sejarah, tidak memodernisasi sejarah, tapi senantiasa berupaya untuk menjaga kelestarian sejarah, dan akan membuat sejarah baru yang terbaik bagi kehidupan ke depan,” komentar Bupati Gowa H.Ichsan Yasin Limpo dalam sambutan pengantar acara peresmian.
Terhadap upaya revitalisasi menaikkan Balla Lompoa dengan cara manual tanpa merusak sedikitpun komponen isi dan konstruksi bakas Istana Raja Gowa tersebut, pihak Museum Rekor Indonesia (MURI) pada hari peresmian, memberikan penghargaan sebagai ‘Rekor Baru’ kepada Pemerintah Kabupaten Gowa. Penghargaan dari MURI ini merupakan yang kedua diberikan kepada Kabupaten Gowa, setelah sebelumnya daerah ini mencatat kemampuan membuat makanan khas etnis Makassar Ka’do Minnya’ terbesar.
Menurut info yang disampaikan Bupati Gowa, pihak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Pusat sudah menyatakan kesediaan akan membantu dana sebesar Rp 3 miliar bagi kelanjutan Revitalisasi Kawasan Museum Balla Lompoa di Sungguminasa, Gowa. Dalam rencananya ke depan akan dibuat selasar yang menghubungkan bangunan Balla Lompoa dangan Istana Tamalate sehingga menjadi rumah kayu terbesar di dunia. Kawasan ini pun akan dikelola oleh suatu Badan tersendiri, yang didalamnya akan menjadi pusat kegiatan seni dan budaya etnis Makassar. Dihidupkan sebagai obyek rekreasi dan wisata sejarah, seni budaya yang menarik. Tiap tanggal 17 setiap bulan akan dilakukan gelar pasukan ‘To Barani’ - Prajurit Pemberani Gowa di masa kerajaan dangan iringan gendang pemacu semangat ‘Tunrung Pakanjara.’
”Ini tanda-tanda hari esok yang akan lebih baik,” ucap Gubernur Sulsel, H. Syahrul Yasin Limpo sesaat sebelum meresmikan selesainya revitalisasi pengangkatan Balla Lompoa.
Ibunda Ny.Hj.Nurhayati Yasin Limpo bersama penyair H.Udhin Palisuri/Ft:Abd.Madjid.
Majunya sebuah Negara atau suatu daerah, kata mantan Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel ini, tidak hanya ditentukan oleh lamanya keberadaan suatu bangsa atau daerah, tidak juga oleh besaran potensi atau luas wilayahnya, tapi banyak bergantung bagaimana penduduk bangsa atau daerah itu mampu memegang teguh jati dirinya. Termasuk mampu memelihara kekuatan kulturalnya, menghargai sejarah, seni dan budayanya.
Gowa, disebutkan, sejak dulu dikenal sebagai tempat lahirnya para prajurit tangguh dan pemberani, tapi sangat menyukai persahabatan. Ini salah satu jati dirinya. ”Ibarat irama gendangnya yang sekalipun menghentak kencang, tapi penarinya tetap tak terpengaruh bergerak gemulai mengikuti aturannya. ”Bekerjalah menjadi yang terbaik mengabdi kepada kehidupan. Dan, mengucapkan Selamat Ulang tahun buat Bupati Gowa,” kata Syahrul Yasin Limpo di akhir sambutannya.
Saat peresmian selesainya revitalisasi pengangkatan ‘Balla Lompoa’ 9 Maret 2011, memang, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ‘Emas’ yang ke-50, Bupati Gowa, H. Ichsan Yasin Limpo. Mata Ny.Hj.Nurhayati Yasin Limpo - ibunda Syahrul dan Ichsan yang hadir dalam upacara peresmian, tampak basah berkaca-kaca.

Sejarah Kab. Bantaeng


Kabupaten Bantaeng adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terletak dibagian selatan provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 395,83 km² atau 39.583 Ha yang dirinci berdasarkan Lahan Sawah mencapai 7.253 Ha (18,32%) dan Lahan Kering mencapai 32.330 Ha. Secara administrasi Kabupaten Bantaeng terdiri atas 8 kecamatan yang terbagi atas 21 kelurahan dan 46 desa. Jumlah penduduk mencapai 170.057 jiwa. [2] Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat dan timur sepanjang 21,5 kilometer yang cukup potensial untuk perkembangan perikanan dan rumput laut.

Kondisi geografis dan kependudukan

Secara geografis Kabupaten Bantaeng terletak pada titik 5o21'23"-5o35'26" lintang selatan dan 119o51'42"-120o5'26" bujur timur. Berjarak 125 Km kearah selatan dari Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayahnya mencapai 395,83 Km2 dengan jumlah penduduk 170.057 jiwa (2006) dengan rincian Laki-laki sebanyak 82.605 jiwa dan perempuan 87.452 jiwa. Terbagi atas 8 kecamatan serta 46 desa dan 21 kelurahan. Pada bagian utara daerah ini terdapat dataran tinggi yang meliputi pegunungan Lompobattang. Sedangkan di bagian selatan membujur dari barat ke timur terdapat dataran rendah yang meliputi pesisir pantai dan persawahan.
Kabupaten Bantaeng yang luasnya mencapai 0,63% dari luas Sulawesi Selatan, masih memiliki potensi alam untuk dikembangkan lebih lanjut. Lahan yang dimilikinya ± 39.583 Ha. Di Kabupaten Bantaeng mempunyai hutan produksi terbatas 1.262 Ha dan hutan lindung 2.773 Ha. Secara keseluruhan luas kawasan hutan menurut fungsinya di kabupaten Bantaeng sebesar 6.222 Ha (2006).
Karena sebagian besar penduduknya petani, maka wajar bila Bantaeng sangat mengandalkan sektor pertanian. Masuk dalam pengembangan Karaeng Lompo, sebab memang jenis tanaman sayur-sayurannya sudah berkembang pesat selama ini. Kentang adalah salah satu tanaman holtikultura yang paling menonjol. Data terakhir menunjukkan bahwa produksi kentang mencapai 4.847 ton (2006). Selain kentang, holtikultura lainnya adalah kool 1.642 ton, wortel 325 ton dan buah-buahan seperti pisang dan mangga. Perkembangan produksi perkebunan, khususnya komoditi utama mengalami peningkatan yang cukup berarti.

Industri dan pariwisata

Sektor industri menjadi pilihan kedua untuk dikembangkan di Kabupaten Bantaeng yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pengembangan sektor industri sangat berpeluang dimasa mendatang, namun membutuhkan investor yang sangat kuat. Dengan perkembangan sektor industri, dampaknya sangat positif, sebab disamping meningkatkan pendapatan masyarakat juga menyerap banyak tenaga kerja. Industri-industri yang berkembang antara lain adalah industri pembersih biji kemiri, pembuatan gula merah, pertenunan godongan, pembuatan perabot rumah tangga dari kayu, anyaman bambu atau daun lontar dan lain-lain.
Sektor lain yang perlu diperhitungkan adalah sektor pariwisata. Kabupaten Bantaeng memiliki peninggalan sejarah yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut sangat menarik untuk dikunjungi. Tak heran memang jika pemerintah kabupaten setempat sangat menaruh perhatian terhadap pariwisata. Terbukti direnovasinya berbagai objek wisata alam menjadi tempat menarik, sepeti permandian alam Bissappu. Juga dipeliharanya peningalan-peninggalan sejarah seperti Balla Tujua yang merupakan kebanggaan masyarakat setempat.
Kabupaten Bantaeng terus berpacu dengan daerah lainnya dengan mengembangkan penataan kota melaui pembuatan taman, drainase, lampu jalan dan lain-lain.

Sejarah yang terlupakan

Komunitas Onto memiliki sejarah tersendiri yang menjadi cikal bakal Bantaeng. Menurut Karaeng Imran Masualle salah satu generasi penerus dari kerajaan Bantaeng, dulunya daerah Bantaeng ini masih berupa lautan. Hanya beberapa tempat tertentu saja yang berupa daratan yaitu daerah Onto dan beberapa daerah di sekitarnya yaitu Sinoa, Bisampole, Gantarang keke, Mamapang, Katapang dan Lawi-Lawi. Masing-masing daerah ini memiliki pemimpin sendiri-sendiri yang disebut dengan Kare’. Suatu ketika para Kare yang semuanya ada tujuh orang tersebut, bermufakat untuk mengangkat satu orang yang akan memimpin mereka semua.
Sebelum itu mereka sepakat untuk melakukan pertapaan lebih dulu, untuk meminta petunjuk kepada Dewata (Yang Maha Kuasa) siapa kira-kira yang tepat menjadi pemimpin mereka. Lokasi pertapaan yang dipilih adalah daerah Onto. Ketujuh Kare itu kemudian bersamadi di tempat itu. Tempat-tempat samadi itu sekarang disimbolkan dengan Balla Tujua (tujuh rumah kecil yang beratap, berdidinding dan bertiang bambu). Pada saat mereka bersemadi, turunlah cahaya ke Kare Bisampole (Pimpinan daerah Bisampole) dan terdengar suara :”Apangaseng antu Nuboya Nakadinging-dinginganna” (Apa yang engkau cari dalam cuaca dingin seperti ini). Lalu Kare Bisampole menjelaskan maksud kedatangannya untuk mencari orang yang tepat memimpin mereka semua, agar tidak lagi terpisah-pisah seperti sekarang ini. Lalu kembali terdengar suara: “Ammuko mangemako rimamampang ribuangayya Risalu Cinranayya (Besok datanglah kesatu tempat permandian yang terbuat dari bamboo).
Keesokan harinya mereka mencari tempat yang dimaksud di daerah Onto. Di tempat itu mereka menemukan seorang laki-laki sedang mandi. “Inilah kemudian yang disebut dengan To Manurunga ri Onto,” jelas Karaeng Burhanuddin salah seorang dari generasi kerajaan Bantaeng. Lalu ketujuh Kare menyampaikan tujuannya untuk mencari pemimpin, sekaligus meminta Tomanurung untuk memimpin mereka. Tomanurung menyatakan kesediaannya, tapi dengan syarat. “Eroja nuangka anjari Karaeng, tapi nakkepa anging kau leko kayu, nakke je’ne massolong ikau sampara mamanyu” (saya mau diangkat menjadi raja pemimpin kalian tapi saya ibarat angin dan kalian adalah ibarat daun, saya air yang mengalir dan kalian adalah kayu yang hanyut),” kata Tomanurung.
Ketujuh Kare yang diwakili oleh Kare Bisampole pun menyahut; “Kutarimai Pakpalanu tapi kualleko pammajiki tangkualleko pakkodii, Kualleko tambara tangkualleko racung.” (Saya terima permintaanmu tapi kau hanya kuangkat jadi raja untuk mendatangkan kebaikan dan bukan untuk keburukan, juga engkau kuangkat jadi raja untuk jadi obat dan bukannya racun). Maka jadilah Tomanurung ri Onto ini sebagai raja bagi mereka semua. Pada saat ia memandang ke segala penjuru maka daerah yang tadinya laut berubah menjadi daratan. Tomanurung ini sendiri lalu mengawini gadis Onto yang dijuluki Dampang Onto (Gadis jelitanya Onto)
Setelah itu mereka pun berangkat ke arah yang sekarang disebut gamacayya. Di satu tempat mereka bernaung di bawah pohon lalu bertanyalah Tomanurung pohon apa ini, dijawab oleh Kare Bisampole: Pohon Taeng sambil memandang kearah enam kare yang lain. Serentak kenam kare yang lain menyatakan Ba’ (tanda membenarkan dalam bahasa setempat). Dari sinilah kemudian muncul kata Bantaeng dari dua kata tadi yaitu Ba’ dan Taeng jelas Karaeng Imran Masualle.
Konon karena daerah Onto ini menjadi daerah sakral dan perlindungan bagi keturunan raja Bnataeng bila mendapat masaalah yang besar, maka bagi anak keturunan kerajaan tidak boleh sembarangan memasuki daerah ini, kecuali diserang musuh atau dipakaikan dulu tanduk dari emas. Namun kini hal itu hanya cerita. Karena menurut Karaeng Burhanuddin semua itu telah berubah akibat kebijakan Pemda yang telah melakukan tata ruang terhadap daerah ini. Kini Kesakralan daerah itu hanya tinggal kenangan.
Tanggal 7 (tujuh) menunjukkan simbol Balla Tujua di Onto dan Tau Tujua yang memerintah dimasa lalu, yaitu: Kare Onto, Bissampole, Sinowa, Gantarangkeke, Mamampang, Mamampang, Katapang dan Lawi-Lawi.
Selain itu, sejarah menunjukkan, bahwa pada tanggal 7 Juli 1667 terjadi perang Makassar, dimana tentara Belanda mendarat lebih dahulu di Bantaeng sebelum menyerang Gowa karena letaknya yang strategis sebagai bandar pelabuhan dan lumbung pasngan Kerajaan Gowa. Serangan Belanda tersebut gagal, karena ternyata dengan semangat patriotiseme rakyat Bantaeng sebagai bagian Kerajaan Gowa pada waktu itu mengadakan perlawanan besar-besaran.
Bulan 12 (dua belas), menunjukkan sistem Hadat 12 atau semacam DPRD sekarang yang terdiri dari perwakilan rakyat melalui Unsur Jannang (Kepala Kampung) sebagai anggotanya yang secara demokratis mennetapkan kebijaksanaan pemerintahan bersama Karaeng Bantaeng.
Tahun 1254 dalam atlas sejarah Dr. Muhammad Yamin, telah dinyatakan wilayah Bantaeng sudah ada, ketika kerajaan Singosari dibawah pemerintahan Raja Kertanegara memperluas wilayahnya ke daerah timur Nusantara untuk menjalin hubungan niaga pada tahun 1254-1292. Penentuan autentik Peta Singosari ini jelas membuktikan Bantaeng sudah ada dan eksis ketika itu.
Bahkan menurut Prof. Nurudin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi, sehingga dijuluki Butta Toa atau Tanah Tuo (Tanah bersejarah).
Selanjutnya laporan peneliti Amerika Serikat Wayne A. Bougas menyatakan Bantayan adalah Kerajaan Makassar awal tahun 1200-1600, dibuktikan dengan ditemukannya penelitian arkeolog dan para penggali keramik pada bagian penting wilayah Bantaeng yakni berasal dari dinasti Sung (960-1279) dan dari dinasti Yuan (1279-1368).
Dengan demikian, maka sesuai kesepakatan yang telah dicapai oleh para pakar sejarah, sesepuh dan tokoh masyarakat Bantaeng pada tanggal 2-4 Juli 1999. berdasarkan Keputusan Mubes KKB nomor 12/Mubes KKB/VII/1999 tanggal 4 Juli 1999 tentang penetapan Hari Jadi Bantaeng maupun kesepatan anggota DPRD Tingkat II Bantaeng, telah memutuskan bahwa sangat tepat Hari Jadi Bantaeng ditetapkan pada tanggal 7 bulan 12 tahun 1254, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor: 28 tahun 1999.

Daftar nama-nama raja yang pernah memerintah

Berikut ini adalah daftar nama-nama raja yang pernah memerintah di wilayah Kabupaten Bantaeng, yaitu:
1.      Bantayan pada awalnya sebagai Kerajaan yakni tahun 1254 - 1293 yang mana diperintah 
oleh Mula Tau yang bergelar To Toa  yang memimpin Kerajaan Bantaeng yang terdiri dari 7 Kawasan yang masing diantaranya dipimpin oleh Karaeng,   yaitu Kare Onto, Karaeng Bissampole, Kare Sinoa, Kare Gantarang Keke, Kare Mamampang, Kare Katampang dan Kare Lawi-Lawi,   yang semua Kare tersebut dikenal dengan nama “Tau Tujua”
  2. Sesudah Mula Tau, maka Raja kedua yang memerintah yaitu Raja Massaniaga pada th 1293.
  3. Pada tahun 1293 - 1332 dipimpin oleh To Manurung atau yang bergelar Karaeng Loeya.
  4. Tahun 1332 - 1362 dipimpin oleh Massaniaga Maratung.
  5. Tahun 1368 - 1397 dipimpin oleh Maradiya.
  6. Tahun 1397 - 1425 dipimpin oleh Massanigaya.
  7. Tahun 1425 - 1453 dipimpin oleh I Janggong yang bergelar Karaeng Loeya.
  8. Tahun 1453 - 1482 dipimpin oleh Massaniga Karaeng Bangsa Niaga.
  9. Tahun 1482 - 1509 dipimpin oleh Daengta Karaeng Putu Dala atau disebut Punta Dolangang.
 10. Tahun 1509 - 1532 dipimpin oleh Daengta Karaeng Pueya.
 11. Tahun 1532 - 1560 dipimpin oleh Daengta Karaeng Dewata.
 12. Tahun 1560 - 1576 dipimpin oleh I Buce Karaeng Bondeng Tuni Tambanga.
 13. Tahun 1576 - 1590 dipimpin oleh I Marawang Karaeng Barrang Tumaparisika Bokona.
 14. Tahun 1590 - 1620 dipimpin oleh Massakirang Daeng Mamangung Karaeng Majjombea  
       Matinroa ri Jalanjang Latenri Rua.
 15. Tahun 1620 - 1652 dipimpin oleh Daengta Karaeng Bonang yang bergelar Karaeng Loeya.
 16. Tahun 1652 - 1670 dipimpin oleh Daengta Karaeng Baso To Ilanga ri Tamallangnge.
 17. Tahun 1670 - 1672 dipimpin oleh Mangkawani Daeng Talele.
 18. Tahun 1672 - 1687 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Baso (kedua kalinya).
 19. Tahun 1687 - 1724 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Ngalle.
 20. Tahun 1724 - 1756 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Manangkasi.
 21. Tahun 1756 - 1787 dipimpin oleh Daeng Ta Karaeng Loka.
 22. Tahun 1787 - 1825 dipimpin oleh Ibagala Daeng Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang.
 23. Tahun 1825 - 1826 dipimpin oleh La Tjalleng To Mangnguliling Karaeng Tallu Dongkonga 
       ri Bantaeng   yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang.
 24. Tahun 1826 - 1830 dipimpin oleh Daeng To Nace (Janda Permaisuri, Kr. Bagala Dg. 
       Mangnguluang Tunijalloka ri Kajang).
 25. Tahun 1830 - 1850 dipimpin oleh Mappaumba Daeng To Magassing.
 26. Tahun 1850 - 1860 dipimpin oleh Daeng To Pasaurang.
 27. Tahun 1860 - 1866 dipimpin oleh Karaeng Basunu.
 28. Tahun 1866 - 1877 dipimpin oleh Karaeng Butung.
 29. Tahun 1877 - 1913 dipimpin oleh Karaeng Panawang.
 30. Tahun 1913 - 1933 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi.
 31. Tahun 1933 - 1939 dipimpin oleh Karaeng Mangkala
 32. Tahun 1939 - 1945 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang
 33. Tahun 1945 - 1950 dipimpin oleh Karaeng Pawiloi (kedua kalinya).
 34. Tahun 1950 - 1952 dipimpin oleh Karaeng Andi Mannapiang (kedua kalinya).
 35. Tahun 1952 - Karaeng Massoelle (sebagai pelaksana tugas).

Daftar Kepala Pemerintahan

Sejak terbentuknya Kabupaten daerah Tingkat II Bantaeng berdasarkasn UU Nomor 29 Tahun 1959, Bupati Kepala Daerah Tingkat II yang pertama dilantik pada tanggal 1 Pebruari 1960. Adapun pejabat pemerintahan sejak terbentuknya Kabupaten Bantaeng hingga saat ini adalah sebagai berikut:
  1. A. Rifai Bulu (1960-1965)
  2. Aru Saleh (1965-1966)
  3. Solthan (1966-1971)
  4. H. Solthan (1971-1978)
  5. Drs. H. Darwis Wahab (1978-1988)
  6. Drs. H. Malingkai Maknun (1988-1993)
  7. Drs. H. Said Saggaf (1993-1998)
  8. Drs. H. Azikin Solthan, M.Si (1998-2008)
  9. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr (2008-sekarang)

Sabtu, 14 Juli 2012

Beberapa Jenis Badik


EWAKO !!!

adalah sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis-Makassar....
Menurut Kamus Populer Inggris-Makassar Indonesia-Makassar, kata rewako merupakan terjemahan dari kata ‘berani’ dalam bahasa Indonesia, dan ‘brave’ dalam bahasa Inggris. Keberanian masyarakat Bugis-Makassar tergambar dalam semboyan pelaut Bugis-Makassar, yang juga menjadi petuah (pappasang) Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo: Takunjunga bangunturu’ Takugunciri gulingku Kualleanna Tallanga Natoalia. Artinya: Tidak begitu saja aku ikut angin buritan. Aku akan putar kemudiku. Lebih baik aku tenggelam daripada balik haluan.
Mungkin kata-kata EWAKO ini memang cocok dengan senjata khas Sulawesi Selatan yang akan kita bahas yaitu "BADIK"

Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah).
Badik ini merupakan senjata khas tradisonal Makassar, Bugis dan Mandar yang berada dikepulauan Sulawesi. Ukurannya yang pendek dan mudah dibawa kemana mana, tapi jangan salah lho kalau badik ini sudah keluar dari sarungnya pantang untuk dimasukkan sebelum meminum darah.

Maka biasanya senjata adat yang bernama Badik ini dahulu sering dipakai oleh kalangan petani untuk melindungi dirinya dari binatang melata dan atau membunuh hewan hutan yang mengganggu tanamannya. Selain itu karena orang bugis gemar merantau maka penyematan badik dipinggangnya membuat dia merasa terlindungi.

Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banong (sarung badik). Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanoa (sarung)
Umumnya badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya siri' dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep siri' ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain dari pada itu ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk seseorang.

Macam-Macam Badik       :

1.      Badik Raja (gecong raja, bontoala)

badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat sana menemukan jadilah sebuah badik raja,, badik ini bilahnya aga” besar ukurannya 20-25 cm, menurut bang ray divo, Ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh
arung atau kalangan bangsawan bangsawan di kerajaan Bone


2. Badik Lagecong

Badik lagecong,, Badik bugis satu ini dikenal sebagai badik perang, banyak orang mencarinya karna sangat begitu terkenal dengan mosonya (racunnya), banyak orang percaya bahwa semua alat perang akan tunduk pada badik gecong tersebut,,
ada dua versi , yang pertama ,Gecong di ambil nama dari nama sang pandre (empu) yang bernama la gecong, yang kedua diambil dari bahasa bugis gecong atau geco”, yang bisa diartikan sekali geco” (sentuh) langsung mati,,
sampai saat ini banyak yang percaya kalau gecong yang asli adalah gecong yang terbuat dari daun nipah serta terapung di air dan melawan arus,, wallahu alam,, panjang gecong biasanya sejengkalan orang dewasa, pamor lonjo,, bentuknya lebih pipih,tipis tapi kuat.


3. Badik Luwu

Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik bugis kadang diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini,

4. Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang)

Badik lompo battang atau sari,, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada juga yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar), konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam,

Kamis, 12 Juli 2012

Mencari Jodo Di Kali Murah dan Cantik


Siapa tidak kenal Kalijodo? Pasti sebagian besar warga Jakarta sudah mengenalnya. Sebagai daerah 'hitam', lokalisasi kawasan ini dikenal sebagai biangnya tempat kriminalitas.

Namun di balik keangkerannya, Kalijodo memiliki daya tarik tersendiri di dalam kehidupan malam. Tidak heran bila malam tiba, Kalijodo selalu ramai dikunjungi, karena di tempat inilah ratusan pekerja seks komersial bertebaran menjajakan diri dengan tarif terjangkau.

Sebagai daerah hitam, geliat kehidupan malam Kalijodo diramaikan dengan banyaknya bertebaran warung remang-remang, bar, kafe-kafe dangdut, billiar, rumah bordir, transaksi narkoba, dan judi kecil-kecilan.

Tak heran bila transaksi perputaran omzet uang di Kalijodo ini cukup besar, bisa mencapai ratusan juta rupiah tiap malam.

Di lokalisasi ini ratusan 'kupu-kupu malam' menggantungkan hidupnya. Mereka menjajakan diri di kafe dan wisma-wisma yang menjamur di sana. Rata-rata usia mereka bervariasi antara 15-50 Tahun.

Yang menarik dari kupu-kupu malam ini banyak di antara mereka masih sangat muda alias ABG. Tak heran bila beberapa waktu lalu terungkap ada 20 anak SMP di Tambora yang ikut mangkal di lokalisasi ini. Ternyata setelah diperiksa 20 anak SMP ini jadi pelacur, karena ingin memiliki ponsel dan uang jajan di sekolah.

Geliat Kalijodo terlihat bila menjelang malam, alunan musik dangdut terus menggema, sementara ratusan cewek-cewek terlihat sibuk ber-make up ria.

Ada yang sedang mengolesi bibirnya dengan lipstik, memakai bedak, bercermin dengan baju seksi, atau ada yang sedang melamun merenungi nasib.

Sebagian besar dari para PSK ini tinggal di lokalisasi dengan pengawasan ketat para mami yang menjaganya di bawah pengawasan preman yang disewanya.

Tepat pukul 22.00, kawasan ini berubah seperti pasar kaget. Ratusan 'kupu-kupu malam' mejeng sambil menggoda dengan senyum genit kepada para lelaki hidung belang yang ingin melepas syahwat.

"Mau ngamar, Mas? Nanti saya kasih yang bagus. Atau mau yang ABG, tapi harganya beda dikit gak dapat cepek (seratus ribu)," kata seorang mami ketika saya mengunjungi Kalijodo, pekan lalu.

Belum lagi saya mengiyakan, mami itu sudah memanggil seorang ABG yang masih terlihat lugu. Dengan lipstik merah menyala dan pakaian sedikit terbuka sehingga terlihat belahan dadanya yang putih, ABG itu kelihatan lebih dewasa dari usia sebenarnya.

"Ini Ayu, Mas. Baru 17 tahun. Cantik khan. Kalau mau ngamar cepetan, nanti keburu disamber orang lho," kata mami itu lagi.

"Bentar lagi, Mi. Minum dulu," jawab saya sambil menawarkan segelas bir hitam kepada Ayu.

Dalam obrolan singkat dengan Ayu, ia mengaku terpaksa mangkal di Kalijodo, karena orang tuanya sudah tidak mampu membiayai sekolahnya lagi di kampung.

"Saya cuma tamatan SMP, cari kerja di Jakarta susah, jadinya kaya gini," kata Ayu yang mengaku berasal dari Sumatra itu.

Menurut Ayu, dari uang Rp.120 ribu yang ia terima sekali berkencan, ia harus membayar sewa kamar Rp20.000 dan memberikan ke mami Rp30.000.

"Jadi bersih saya cuma dapet Rp.70.000. Yah kalau lagi bagus, saya semalem bisa dapet lima tamu. Saya juga suka dapat uang tip, kalau tamunya royal," kata Ayu yang memiliki rambut sebahu dengan tahi lalat kecil di atas bibirnya itu.

Keberadaan ABG-ABG di Kalijodo ini sekarang menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga banyak para lelaki hidung belang dari berbagai penjuru sudut kota tertarik singgah di kawasan ini.

"Sebenarnya di sini aman, Mas, kalau tidak ada yang memulai. Kita udah bayar uang keamanan, kok. Jadi jangan khawatir," kata mami menimpali.

Lokalisasi Kalijodo beberapa waktu lalu sempat menjadi menjadi favorit dan berjaya. Tak hanya para preman yang menikmati keuntungan, tapi juga oknum aparat dari berbagai instansi ikut kecipratan dari transaksi bisnis dunia hitam di Kalijodo ini.

Rencana penutupan lokasi pelacuran pasca bentrok pada 2002 lalu sempat membuat Kalijodo sepi kunjungan. Namun sekarang dunia malam di Kalijodo sudah mulai menggeliat lagi, dan seperti waktu-waktu sebelumnya bila malam menjelang, Kalijodo sudah seperti pasar malam yang hiruk pikuk.

Wajah-wajah baru para pelacur muda berusia belasan tahun mewarnai kawasan itu bersaing dengan para senior menawarkan orgasme murah. Mereka terjerumus ke lembah nista mencari uang untuk membiayai hidupnya di Jakarta yang keras ini.

                                                      ---------------- 0000 --------------------

Bongkaran dan Kalijodo bukan kawasan biasa. Di  lembah hitam ini bercokol pelacur papan bawah dan preman kelas teri. Bagi kawanan bandit, daerah itu tambang uang. Mempertahankan sumber pernghasilan, mereka pasang badan. Jika perlu, nyawa taruhannya.
Berbagai tindak kriminalitas kerap dijumpai di dua wilayah tersebut. Pelaku kejahatan  memalak, memeras, mencuri, menodong bahkan membunuh pengunjung yang menolak dipalak.
Terakhir, Nur Afriadi, 32, meregang nyawa di Bongkaran, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (20/2) dinihari. Pria asal Kudus, Jawa Tengah ini menolak dipalak empat preman yang menghadangnya.
Akibat penolakannya, Nur Afriadi menjadi korban keganasan bandit lembah hitam ini.  Ia dikeroyok, disaksikan warga yang tak berani mencegah. Afriadi tewas dengan luka bacok di punggung dan perut.
Sehari setelah kejadian, petugas Polsek Tanah Abang bergerak cepat. Satu tersangka Uci alias Unyil, 17, ditangkap. Tiga temannya masih buron. Bandit muda ini mengaku sengaja menghadang korban. “ Dia tidak mau menyerahkan dompet dan HP yang kami minta, “ kata Unyil, enteng.
Tidak hanya pemalakan, di tengah rel yang dipenuhi wanita penjaja cinta bergincu tebal, juga rawan copet. Tidak heran, jika banyak pengunjung yang kehilangan dompet. “ Jangan anggap remeh Bongkaran. Kalau tidak kenal preman di sini, kita dibikin konyol, “ kata satu warga.
Mereka yang ingin kencan dengan pelacur di Bongkaran, siap-siap merogoh kocek Ro 100 ribu. Tarif ini sudah dipotong sewa gubuk untuk sarana bercinta. “ Jangan coba-coba nggak bayar kencan. Nyawa bisa melayang, “ tambahnya.
KALIJODO
Lain Bongkaran, lain Kalijodo. Polres Jakarta Barat dan Polres Jakarta Utara bertanggung jawab terhadap keamanan wilayah tersebut.
Kalijodo kerap menciptakan masalah. Bentrok sesama preman sering terjadi. Persoalannya, menanam pengaruh menguasai perjudian koprok, rumah bordil, dan perdagangan narkoba.
Dua tahun lalu, bentrok sesama preman Kalijodo tak terhindarkan. Mereka yang mengusai daerah ini saling bacok,  bahkan  saling panah. Tercatat, 8 orang luka. Bentrok berakhir setelah ratusan petugas datang menyerbu.
Di Kalijodo juga, seorang dara 15 tahun disekap mami selama 8 hari. ABG yang bekerja sebagai pengamen di Terminal Bus Kampung Melayu  dipaksa melayani pria hidung belang di rumah bordil. Germo  mendapatkan ABG ini dari dua sopir angkot di Depok. Korban dibebaskan ibunya setelah membayar Rp 200 ribu dan sebuah HP. Kasus dilaporkan ke Polda Metro Jaya,  (Pos Kota, 21/2)
Tak hanya pengunjung. Penghuni daerah mesum juga menjadi sapi perahan. Berdalih menjaga keamanan, uang jago diminta pada wanita malam, mami hingga pedagang yang menjual minuman keras. Pengakuan seorang wanita malam Kalijodo, preman memaksa minta uang jago Rp5.000 tiap ia mendapat tamu.     Upeti makin besar jika ‘jasa’ yang dikeluarkan makin terlihat.
“Misalnya, dia ngasih tau mau ada razia,” ungkapnya. “Kalau info  benar, berarti kita bisa menghindar. Nah..uangnya makin banyaklah. Saya suka ngasih Rp10.000,” ujar seorang wanita penghibur.
Di tempat ini, setiap kali ada petugas untuk merazia akan terdengar pukulan besi bertalu-talu ke tiang listrik. Itu adalah tanda bahaya bagi penghuni. Setiap suara terdengar, maka wanita malam dan tamunya akan berhenti bertransaksi.
Tidak hanya di Bongkaran dan Kalijodo, preman juga bercokol di terminal angkutan umum, tempat hiburan malam, lokasi parkir liar, dan kawasan bisnis.
SOSIAL DAN EKONOMI
Joko Dwi, pakar sosilogi  dari Universitas Gajah Mada, menilai banyaknya preman di daerah hitam adalah masalah sosial dan ekonomi yang saling berkaitan. Menurutnya, daerah prostitusi subur premanisme karena statusnya yang ilegal. Alasannya, ketidakresmian membuat siapa saja memasang badan untuk melindungi gangguan dari luar. “Dan tentu tidak gratis,” katanya. “Semakin banyak yang membutuhkan maka jumlah preman makin banyak pula.”
Pemerintah, lanjutnya, jangan hanya bereaksi kalau ada kejadian besar yang melibatkan preman. “Perang terhadap preman  harus terus menerus, jangan hanya sesaat meledak lalu terlupakan,” katanya. 

Kamis, 05 Juli 2012

SIRI : BUGIS MAKASSAR


mks



Sebenarnya, Siri’ tidak hanya dikenal dalam wacana budaya Bugis-Makassar, tetapi juga di kalangan Suku Toraja dan Mandar yang mendiami daratan Sulawesi Selatan. Kendati demikian, dalam buku ini, dengan tidak mengurangi eksistensi dua suku bangsa lainnya di daerah ini, hanya mengetengahkan suku Bugis-Makassar. Telah lama orang-orang Bugis-Makassar memegang teguh Siri’ (rasa malu / harga diri). Bahkan Siri’ sudah merupakan inti kebudayaan Sulawesi Selatan. Menjadi inspirasi dari setiap gerak langkah orang-orang Bugis-Makassar kapan dan di manapun dia berada. Sebagai inti kebudayaan, Siri’ jelas tampak dalam karakter dan kepribadian orang-orang Bugis-Makassar. Meski begitu, ada kecenderungan Siri’ mengalami penyempitan makna dan makin kabur aplikasinya di tengah masyarakat sendiri. Akibatnya, Siri’ kadang terlupakan dan dikesampingkan dalam soal-soal pelayanan publik. Kondisi ini menimbulkan bertambahnya pelaku kejahatan korupsi, misalnya. Mengapa? Karena Siri’ hanya diidentikkan dengan pertumpahan darah. Siri’ dalam konteks ini tampaknya baru berlaku ketika seseorang sudah menganggap dirinya dipermalukan. Padahal sesungguhnya, dengan berlaku baik–paling tidak–bisa menghindari kelakuan yang oleh masyarakat dipandang buruk, atau bertentangan dengan hukum yang berlaku, juga merupakan implementasi Siri’ sebagai perlambang tegaknya sebuah harga diri. Harga diri sebagai orang-orang Sulawesi Selatan. Sebab, hanya disebut manusia jika seseorang memiliki Siri’

SUKU BUGIS adalah suku yang tergolong ke dalam suku Melayu muda. Masuk ke SULAWESI SELATAN setelah gelombang migrasi pertama dari daratan ASIA tepatnya Yunan. Kata ‘Bugis’ berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Wajo yaitu LA SATUMPUGI Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.
SUKU BUGIS adalah suku terbesar ketiga di Indonesia setelah suku Jawa dan Sunda. Berasal dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dan menyebar pula di propinsi-propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah,Pulau Kalimantan, Irian, Jawa Bali dan Kepulauan Riau, dan sampai ke Negara Singapore, Malaysia, Berunai Darussalam dan sampai ke Afrika Selatan.

“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan Timur, yakni sekitar Kutei-Samarinda, atau dari bagian tenggara Kalimantan, yakni sekitar Pegatan-Pulau Laut (belakangan, pada kedua wilayah itu terdapat perkampungan bugis. Mungkin tanpa disadari, mereka sebenarnya telah kembali ke tempat asal nenek-moyang mereka) …”Demikian Christian Pelras, menulis salah satu tesis tentang asal nenek moyang orang Bugis di Sulawesi Selatan, di dalam bukunya Manusia Bugis (Nalar, 2006 hal. 45, terjemahan dari The Bugis, 1996). Tesis ini sudah lama dikemukakan oleh seorang ahli bahasa, Roger F. Mills, yaitu pada tahun 1975, namun bagi masyarakat umum di Indonesia pendapat ini mungkin masih baru.Selain baru, juga menarik sebab pemahaman yang ada adalah orang Bugis (termasuk suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat) yang ada di Kalimantan Timur dewasa ini berasal dari pulau Sulawesi dari proses gelombang migrasi yang hampir terjadi sepanjang tahun, meski itu hanya per individu. Dengan kata lain, “Mereka kembali ke asal”. Betulkah demikian? Ada ilmuwan yang setuju, ada yang tidak. Namun dari penelitian kesamaan bahasa dan kedekatan geografis, itu sangat dimungkinkan untuk terjadi.
Terlepas orang Bugis “kembali” atau tidak, Kalimantan Timur merupakan salah satu kawasan penting di dalam sejarah migrasi orang Bugis, sejak ratusan tahun lampau sampai detik tulisan ini dibuat. Untuk itu, pada gilirannya, dunia sosial, politik, ekonomi, dan budaya di Kalimantan Timur tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Bugis atau Sulawesi Selatan secara umum.

Manusia Bugis di Kalimantan Timur tidaklah satu “jenis” saja. Pertama yang perlu diketahui, istilah “Bugis” sering diartikan sebagai “orang dari Sulawesi Selatan”, meski orang itu beretnik Makassar, Mandar, Bajau dan Toraja. Kedua, ada orang Bugis yang memang melakukan migrasi (lahir di tanah Sulawesi untuk kemudian pindah) dan ada yang orang hanya Bugis biologis saja, yaitu kedua (atau satu) orangtuanya berasal dari Sulawesi tetapi dia lahir di Kalimantan Timur.
Buku setebal 500 halaman ini merupakan buku terbaik tentang kebudayaan Suku Bugis. Artinya, dia bisa menjadi rujukan untuk dua hal di atas: perbedaan dan kesamaan Bugis dengan suku lain dan acuan generasi Bugis yang lahir di luar tana Ugi, misalnya di Kalimantan Timur ini. Manusia Bugis dan budayanya amatlah penting diketahui dari sumber yang obyektif sebab seringkali ada yang belum kita pahami hingga menimbulkan persepsi yang salah atau berlebihan terhadap Bugis dan manusianya.
Kalimat kunci yang menjadi benang merah antara: Pulau Sulawesi–manusia Bugis–migrasi–tujuan migrasi adalah alasan untuk melakukan perpindahan dari tanah kelahirannya ke daerah lain, baik di pulau yang sama (Sulawesi) maupun di seberang lautan: “…berhubungan dengan upaya mencari pemecahan konflik pribadi, menghindari penghinaan, kondisi yang tidak aman, atau keinginan untuk melepaskan diri baik dari kondisi sosial yang tidak memuaskan, maupun hal-hal yang tidak diinginkan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan ditempat asal.” (hal. 370).
Dari alasan-alasan di atas, Pelras mengambil kasus orang Bugis di Kalimantan Timur sebagai salah satu contoh, yaitu perpindahan seorang bangsawan Wajo’ bernama La Ma’dukelleng bersama 3.000 pengikutnya ke Pasir. Dan oleh Sultan Pasir, perantau tersebut diberi tanah yang sekarang ini dikenal dengan nama Samarinda, kawasan yang dibesarkan oleh orang Bugis.
Alasan di atas berlanjut: “Hanya saja, alasan seperti itu saja tampaknya tidak akan cukup memadai untuk dijadikan landasan untuk memahami mengapa begitu banyak tersebar pemukiman orang Bugis di seluruh Nusantara sejak akhir abad ke-17. Juga tidak dapat menjelaskan kenyataan bahwa—terlepas dari keadaan yang terus berubah—aktivitas perantauan justru merupakan ciri khas “permanen” orang Bugis hingga kini”.
Lalu, sebenarnya budaya apa sih yang identik dengan manusia Bugis? Pertanyaan ini mudah dijawab untuk orang Bugis yang memang lahir dan besar di Sulawesi Selatan. Lalu bagaimana yang mengklaim dirinya sebagai to Bugis tetapi dia lahir di daerah lain, katakanlah Kalimantan Timur? Ya, dia berhak bersikap demikian jika kedua orangtuanya Bugis totok, hitung-hitung dia bisa berbahasa Bugis. Tapi ini kan hanya salah satu unsur budaya Bugis. Bagaimana dengan unsur-unsur budaya yang lain? Apakah dia juga memiliki sikap siriq dan pesseq? Apakah ketika dia lahir dan menikah oleh orangtuanya menggunakan budaya-budaya Bugis? Rumahnya berarsitektur rumah Bugis? Apakah dia menjadi bagian dari pranata sosial yang berkembang di tanah Bugis?
Inilah yang perlu dijawab dan dipahami generasi Bugis yang lahir di perantauan. Manusia Bugis dapat dijadikan sebagai bahan perenungan untuk dapat memposisikan diri sebagai generasi yang tidak kehilangan akar budaya meski dia lahir di luar tanah-budaya moyangnya; meski ciri Bugis hanya karena dia keturunan sepasan laki-laki dan perempuan yang berasal dari Sulawesi Selatan.
Bukan itu saja, orang lain yang mempunyai latar belakang suku yang berbeda tetapi bergaul dengan manusia Bugis di kesehariannya, misalnya sebagai isteri/suami, teman sekantor, rekan bisnis, dan sahabat juga penting untuk memahami budaya-budaya Bugis. Bagaimanapun, Banjar, Dayak, Jawa, dan suku lain di Kalimantan Timur mempunyai banyak perbedaan dengan budaya Bugis yang sedikit-banyak seringkali menimbulkan pergesakan yang berujung pada konflik. Pemahaman atas budaya Bugis dan sebaliknya (orang Bugis juga harus memahami budaya pihak lain) adalah salah satu cara untuk menjalin hubungan yang harmonis.
Di mata orang luar, orang Bugis dikenal sebagai orang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi mempertahankan kehormatan (siriq), mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Namun demikian, di balik sifat keras itu, orang Bugis juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi kesetiakawanannya. Orang Bugis memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik. Mereka adalah contoh yang jarang terdapat di wilayah Nusantara. Mereka mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India, dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka. Orang Bugis juga memiliki kesusastraan, baik lisan maupun tulisan yang cukup dikagumi. Dan setelah menganut Islam, bersama Aceh, Minangkabau, Melayu, Sunda, Madura, Moro, Banjar, Makassar, dan Mandar, orang Bugis identik sebagai orang di Nusantara yang kuat identitas keislamannya.