Entri Populer

Sabtu, 05 Juli 2014

Kisah Mahabarata Adiparwa

Adiparwa adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah MahaBharata. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Bagawan Ugrasrawa yang mendatangi Bagawan Sonaka di hutan Nemisa. Bagian-bagian kitab Adiparwa itu di antaranya:
Cerita Begawan Ugrasrawa (Ugraçrawā) mengenai terjadinya pemandian Samantapañcaka dan tentang dituturkannya kisah MahaBharata oleh Begawan Waisampayana (Waiçampāyana). Kisah panjang tersebut dituturkan atas permintaan maharaja Janamejaya, raja Hastinapura, anak mendiang prabu Parikesit (Parīkşit) dan cicit Pandawa. Begawan Waisampayana bermaksud menghibur sang maharaja atas kegagalan kurban ular (sarpayajña) yang dilangsungkan untuk menghukum naga Taksaka, yang telah membunuh raja Pariksit.
Selain itu sang Ugrasrawa juga menjelaskan ringkasan delapan belas parwa yang menyusun MahaBharata; jumlah bab, seloka (çloka) dan isi dari masing-masing parwa.
Cerita dikutuknya maharaja Janamejaya oleh sang Sarama, yang berakibat kegagalan kurban yang dilangsungkan oleh sang maharaja.
Cerita Begawan Dhomya beserta ketiga orang muridnya; sang Arunika, sang Utamanyu dan sang Weda. Dilanjutkan dengan ceritera Posya, mengenai kisah asal mula sang Uttangka murid sang Weda bermusuhan dengan naga Taksaka. Oleh karenanya sang Uttangka lalu membujuk Maharaja Janamejaya untuk melaksanakan sarpayajña atau upacara pengorbanan ular.
Cerita asal mula Hyang Agni (dewa api) memakan segala sesuatu, apa saja dapat dibakarnya, dengan tidak memilah-milah. Serta nasihat dewa kepada sang Ruru untuk mengikuti jejak sang Astika, yang melindungi para ular dan naga dari kurban maharaja Janamejaya.
Ceritera Astika; mulai dari kisah sang Jaratkāru mengawini sang Nāgini (naga perempuan) dan beranakkan sang Astika, kisah lahirnya naga dan garuda, dikutuknya para naga oleh ibunya agar dimakan api pada kurban ular, permusuhan naga dengan garuda, hingga upaya para naga menghindarkan diri dari kurban ular.
Di dalam ceritera ini terselip pula kisah mengenai upaya para dewa untuk mendapatkan tirta amrta atau air kehidupan, serta asal-usul gerhana matahari dan burlan.
Cerita asal-usul Raja Parikesit dikutuk Begawan Çrunggī dan karenanya mati digigit naga Taksaka.
Cerita pelaksanaan kurban ular oleh maharaja Janamejaya, dan bagaimana Begawan Astika mengurungkan kurban ular ini.
Cerita asal-usul dan sejarah nenek moyang Kurawa dan Pandawa. Kisah Sakuntala (Çakuntala) yang melahirkan Bharata, yang kemudian menurunkan keluarga Bharata. Sampai kepada sang Kuru, yang membuat tegal Kuruksetra; sang Hasti, yang mendirikan Hastinapura; maharaja Santanu (Çantanu) yang berputra Bhîsma Dewabrata, lahirnya Begawan Byasa (Byâsa atau Abiyasa) –sang pengarang kisah ini– sampai kepada lahirnya Dhrestarastra (Dhŗţarāstra) –ayah para Kurawa, Pandu (Pãņdu) –ayah para Pandawa, dan sang Widura.
Cerita kelahiran dan masa kecil Kurawa dan Pandawa. Permusuhan Kurawa dan Pandawa kecil, kisah dang hyang Drona, hingga sang Karna menjadi adipati di Awangga.
Cerita masa muda Pandawa. Terbakarnya rumah damar, kisah sang Bima (Bhîma) mengalahkan raksasa Hidimba dan mengawini adiknya Hidimbî (Arimbi) serta kelahiran Gatutkaca, kemenangan Pandawa dalam sayembara Drupadi, dibaginya negara Hâstina menjadi dua untuk Kurawa dan Pandawa, pengasingan sang Arjuna selama 12 tahun dalam hutan, lahirnya Abimanyu (Abhimanyu) ayah sang Pariksit, hingga terbakarnya hutan Kandhawa tempat naga Taksaka bersembunyi.
Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa. Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahābhārata).
Kisah Bagawan Dhomya menguji tiga muridnya
Dikisahkan seorang Brāhmana bernama Bagawan Dhomya, tinggal di Ayodhya. Beliau memiliki 3 murid, bernama: Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. Ketiganya akan diuji kesetiaannya oleh Sang Guru. Sang Arunika disuruh bersawah. Dengan berhati-hati Sang Arunika merawat biji padi yang ditanamnya. Ketika biji-bijinya sedang tumbuh, datanglah hujan membawa air bah yang kemudian merusak pematang sawahnya. Ia khawatir kalau air tersebut akan merusak tanamannya, maka ia perbaiki pematangnya untuk menahan air. Berkali-kali usahanya gagal dan pematangnya jebol, maka ia merebahkan dirinya sebagai pengganti pematang yang jebol untuk menahan air. Karena kesetiannya tersebut, Sang Arunika diberikan anugerah kesaktian oleh Bagawan Dhomya.
Sementara itu, Sang Utamanyu disuruh mengembala sapi. Sang Utamanyu tidak diperbolehkan untuk meminta-minta air kalau ia sedang haus saat mengembala sapi, maka ia menjilat susu sapi yang digembalanya. Hal tersebut juga ditentang oleh Sang Guru, maka Sang Utamanyu menghisap getah daun “waduri” untuk menghilangkan dahaga. Hal tersebut mengakibatkan matanya buta. Ia tidak tahu jalan sehingga terperosok ke dalam sumur kering. Sampai sore, Sang Utamanyu tidak juga kembali pulang, gurunya menjadi cemas. Ketika dicari, didapatinya Sang Utamanyu berada dalam sebuah sumur. Bagawan Dhomya kemudian mendengarkan cerita Sang Utamanyu. Karena kesetiannya terhadap kewajiban, Sang Utamanyu diberikan mantra sakti yang mampu menyembuhkan penyakit oleh Bagawan Dhomya.
Sementara itu, Sang Weda disuruh tinggal di dapur untuk menyediakan hidangan yang terbaik buat gurunya. Sang Weda selalu menuruti perintah gurunya, meski yang buruk sekalipun. Segala perintah gurunya dikerjakan dengan baik. Maka dari itu, Sang Weda dianugerahi segala macam ilmu pengetahuan, mantra Veda, dan kecerdasan.
Kisah Sang Winata dan Sang Kadru
Dikisahkan terdapat seorang Maharsi bernama Bagawan Kasyapa, putera bagawan Marirci, cucu Dewa Brahma. Ia diberi oleh Bagawan daksa empat belas puteri. Keempat belas puteri tersebut bernama: Aditi, Diti, Danu, Aristi, Anayusa, Kasa, Surabhi, Winata, Kadru, Ira, Parwa, Mregi, Krodhawasa, Tamra. Di antara empat belas puteri tersebut, Sang Winata dan Kadrru tidak memiliki anak. Mereka berdua kemudian memohon belas kasihan Bagawan Kasyapa. Sang Kadru memohon seribu anak sedangkan Sang Winata hanya memohon dua anak. Kemudian Bagawan Kasyapa memberikan Sang Kadru seribu butir telur sedangkan Sang Winata diberikan dua butir telur. Kedua puteri tersebut kemudian merawat telur masing-masing dengan baik.
Singkat cerita, seribu butir telur milik Sang Kadru menetas, dan lahirlah para Naga. Yang terkemuka adalah Sang Anantabhoga, Sang Wasuki, dan Sang Taksaka. Sementara telur Sang Kadru sudah menetas semuanya, telur Sang Winata belum menetas. Karena tidak sabar, maka telurnya dipecahkan. Ketika pecah, terlihatlah seorang anak yang baru setengah jadi, bagian tubuh ke atas lengkap sedangkan dari pinggang ke bawah tidak ada. Sang anak marah karena ditetaskan sebelum waktunya. Anak tersebut kemudian mengutuk ibunya supaya diperbudak oleh Sang Kadru berlebih-lebihan. Kelak, saudaranya yang akan menetas akan menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Anak tersebut kemudian diberi nama Sang Aruna, karena tidak memiliki kaki dan paha. Sang Aruna menjadi sais (kuir) kereta Dewa Surya.
Kisah pemutaran Mandaragiri
Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, para Dewa, detya, dan rakshasa mengadakan rapat untuk mencari tirta amerta (air suci). Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) mengatakan bahwa tirta tersebut berada di dasar laut Ksira. Cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Para Dewa, detya, dan rakshasa kemudian menuju laut Ksira. Untuk mengaduknya, Naga Wasuki mencabut gunung Mandara (Mandaragiri) di pulau Sangka sebagai tongkat pengaduk. Gunung tersebut dibawa ke tengah lautan. Seekor kura-kura (Kurrma) besar menjadi penyangga/dasar gunung tersebut. Sang Naga melilit gunung tersebut, kemudian para Dewa memegang ekornya, sedangkan rakshasa dan detya memegang kepalanya. Dewa Indra berdiri di puncaknya agar gunung tidak melambung ke atas.
Beberapa lama setelah gunung diputar, keluarlah Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Lakshmi, kuda Uccaihsrawa, dan Kastubhamani. Semuanya berada di pihak para Dewa. kemudian, munculah Dhanwantari membawa kendi tempat tirta amerta. Para detya ingin agar tirta tersebut menjadi milik mereka sebab sejak awal tidak pernah dapat bagian. Tirta amerta pun menjadi milik mereka. Para Dewa memikirkan cara untuk merebut tirta tersebut. akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik, kemudian mendekati para rakshasa dan detya. Para rakshasa-daitya yang melihatnya menjadi terpesona, dan menyerahkan kendi berisi tirta tersebut. Wanita cantik itu kemudian pergi sambil membawa tirta amerta dan berubah kembali menjadi Dewa Wisnu.
Para detya yang melihatnya menjadi marah. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran antara para Dewa dan rakshasa-detya. Kemudian Dewa Wisnu teringat dengan senjata chakra-nya. Senjata chakra kemudian turun dari langit dan menyambar-nyambar para rakshasa-detya. Banyak dari mereka yang lari terbirit-birit karena luka-luka. Akhirnya ada yang menceburkan diri ke laut dan masuk ke dalam tanah. Para Dewa akhirnya berhasil membawa rtirta amerta ke surga.
Kisah Sang Garuda dan para Naga
Dikisahkan, pada suatu hari Sang Winata dan Sang Kadru, istri Bagawan Kasyapa, mendengar kabar tentang keberadaan seekor kuda bernama Uccaihsrawa, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih sedangkan ekornya saja yang hitam. Karena berbeda pendapat, mereka berdua bertaruh, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda itu besok sekaligus menentukan siapa yang salah.
Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengatakan bahwa ibunya sudah tentu akan kalah, karena warna kuda tersebut putih belaka. Sang Kadru pun cemas karena merasa kalah taruhan, maka dari itu ia mengutus anak-anaknya untuk memercikkan bisa ke ekor kuda tersebut supaya warnanya menjadi hitam. Anak-anaknya menolak untuk melaksanakannya karena merasa perbuatan tersebut tidak pantas. Sang Kadru yang marah mengutuk anak-anaknya supaya mati ditelan api pada saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya. Mau tak mau, akhirnya anak-anaknya melaksanakan perintah ibunya. Mereka pun memercikkan bisa ular ke ekor kuda Uccaihsrawa sehingga warnanya yang putih kemudian menjadi hitam. Akhirnya Sang Kadru memenangkan taruhan sehingga Sang Winata harus menjadi budaknya.
Sementara itu, telur yang diasuh Sang Winata menetas lalu munculah burung gagah perkasa yang kemudian diberi nama Garuda. Sang Garuda mencari-cari kemana ibunya. Pada akhirnya ia mendapati ibunya diperbudak Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda membantu ibunya mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah berlari kesana-kemari. Sang Garuda kepayahan, lalu menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan ibunya. Para naga menjawab, kalau Sang Garuda mampu membawa tirta amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan. Sang Garuda menyanggupi permohonan tersebut.
Singkat cerita, Sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan dan sampai di tempat tirta amerta. Pada saat Sang Garuda ingin mengambil tirta tersebut, Dewa Wisnu datang dan bersabda, “Sang Garuda, jika engkau ingin mendapatkan tirta tersebut, mintalah kepadaku, nanti pasti aku berikan”.
Sang Garuda menjawab, “Tidak selayaknya jika saya meminta kepada anda sebab anda lebih sakti daripada saya. Karena tirta amerta anda tidak mengenal tua dan mati, sedangkan saya tidak. Untuk itu, berikanlah kepada saya anugerah yang lain”. Dewa Wisnu berkata, “Jika demikian, aku memintamu untuk menjadi kendaraanku, sekaligus menjadi lambang panji-panjiku”. Sang Garuda setuju dengan permohonan tersebut sehingga akhirnya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Kemudian Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta tersebut diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.
Sampailah Sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga girang ingin segera meminum amerta, namun Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminum jika para naga mandi terlebih dahulu. Para naga pun mandi sesuai dengan syarat yang diberikan, tetapi setelah selesai mandi, tirta amerta sudah tidak ada lagi karena dibawa kabur oleh Dewa Indra. Para naga kecewa dan hanya mendapati beberapa percikan tirta amerta tertinggal pada daun ilalang. Para naga pun menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Daun ilalang pun menjadi suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu Sang Garuda terbang ke surga karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya.
Mangkatnya Raja Parikesit
Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, ayahnya adalah Abimanyu sedangkan putranya adalah Janamejaya. Beliau merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa.
Saat Maharaja Parikesit masih berada dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut serta bersama Arjuna dalam sebuah pertempuran besar di daratan Kurukshetra. Dalam pertempuran tersebut, Abimanyu gugur dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang. Abimanyu meninggalkan ibu Parikesit yang bernama Utara karena gugur dalam perang.
Pada pertempuran di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Aswatama dan Arjuna sama-sama sakti dan sama-sama mengeluarkan senjata Brahmāstra. Karena dicegah oleh Resi Byasa, Aswatama dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Maka Aswatama memilih agar senjata tersebut diarahkan ke kandungan Utara. Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan kembali. Aswatama kemudian dikutuk agar mengembara di dunia selamanya.
Setelah parikesti lahir, Resi Dhomya memprediksikan kepada Yudistira bahwa ia akan menjadi pemuja setia Dewa Wisnu, dan semenjak ia diselamatkan oleh Bhatara Kresna, ia akan dikenal sebagai Vishnurata (Orang yang selalu dilindungi oleh Sang Dewa).
Resi Dhomya memprediksikan bahwa Parikesit akan selamanya mencurahkan kebajikan, ajaran agama dan kebenaran, dan akan menjadi pemimpin yang bijaksana, tepatnya seperti Ikswaku dan Rama dari Ayodhya. Ia akan menjadi ksatria panutan seperti Arjuna, yaitu kakeknya sendiri, dan akan membawa kemahsyuran bagi keluarganya.
Saat dimulainya zaman Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan, dan mangkatnya Kresna Awatara dari dunia fana, lima Pandawa bersaudara pensiun dari pemerintahan. Parikesit sudah layak diangkat menjadi raja, dengan Krepa sebagai penasihatnya. Beliau menyelenggarakan Aswameddha Yajña tiga kali di bawah bimibingan Krepa.
Kutukan Sang Srenggi
Pada suatu hari, Raja Parikesit pergi berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. Ia kepayahan, lalu berhenti untuk beristirahat. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat pertapaan. Di pertapaan tersebut, tinggalah Bagawan Samiti. Beliau sedang duduk bertapa dan membisu. Ketika Sang Raja bertanya kemana buruannya pergi, Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Raja Parikesit marah dan mengambil bangkai ular dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke leher Bagawan Samiti. Kemudian Sang Kresa menceritakan kejadian tersebut kepada putera Bagawan Samiti yang bernama Sang Srenggi yang bersifat mudah marah.
Saat Sang Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular melilit leher ayahnya. Kemudian Sang Srenggi mengucapkan kutukan bahwa Raja Parikesit akan mati digigit ular setelah tujuh hari sejak kutukan tersebut diucapkan. Bagawan Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat berlindung. Akhirnya Bagawan Samiti berjanji akan mengakhiri kutukan tersebut. ia mengutus muridnya untuk memberitahu Sang Raja, namun Sang Raja sudah merasa tersinggung dan juga malu untuk menerima mengakhiri kutukan tersebut dan memilih untuk berlindung. setelah beliau diramalkan akan dibunuh oleh seekor ular. Maka beliaupun menyuruh untuk mengadakan upacara sarpayajna untuk mengusir semua ular dan berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular.
Kemudian Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintah Sang Srenggi untuk menggigit Sang Raja. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Raja berada dalam menara tinggi dan dikelilingi oleh prajurit, brahmana, dan ahli bisa. Naga Taksaka mengalami kesulitan untuk menjalankan perintah itu. Akhirnya pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Raja Parikesit wafat setelah digigit Naga Taksaka .
Versi Jawa
Parikesit adalah putera Abimanyu alias Angkawijaya, kesatria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, puteri Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuddha, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Hastinapura setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Hastinapura.
Parikesit naik tahta negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.
Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putera, yaitu:
Dewi Puyangan, berputera Ramayana dan Pramasata
Dewi Gentang, berputera Dewi Tamioyi
Dewi Satapi alias Dewi Tapen, berputera Yudayana dan Dewi Pramasti
Dewi Impun, berputera Dewi Niyedi
Dewi Dangan, berputera Ramaprawa dan Basanta.
Raja Janamejaya mengadakan upacara korban ular
Setelah Maharaja Parikesit mangkat, puteranya yang bernama Janamejaya menggantikan tahtanya. Pada waktu itu beliau masih kanak-kanak, namun sudah memiliki kesaktian, kepandaian, dan wajah yang tampan. Raja Janamejaya dinikahkan dengan puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Bhamustiman. Raja Janamejaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dunia tenteram, setiap musuh pasti dapat ditaklukkannya. Ketika Sang Raja berhasil menaklukkan desa Taksila, Sang Uttangka datang menghadap Sang Raja dan mengatakan niatnya yang benci terhadap Naga Taksaka, sekaligus menceritakan bahwa penyebab kematian ayahnya adalah karena ulah Naga Taksaka.
Sang Raja meneliti kebenaran cerita tersebut dan para patihnya membenarkan cerita Sang Uttangka. Sang Raja dianjurkan untuk mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas Naga Taksaka. Singkat cerita, beliau menyiapakan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. Melihat Sang Raja mengadakan upacara tersebut, Naga Taksaka menjadi gelisah. Kemudian ia mengutus Sang Astika untuk menggagalkan upacara Sang Raja. Sang Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara. Sang Astika menyembah-nyembah Sang Raja dan memohon agar Sang Raja membatalkan upacaranya. Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Sang Astika, membatalkan upacaranya. Akhirnya, Sang Astika mohon diri untuk kembali ke Nagaloka. Naga Taksaka pun selamat dari upacara tersebut.
Wesampayana menuturkan MahaBharata
Maharaja Janamejaya yang sedih karena upacaranya tidak sempurna, meminta Bagawan Byasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, sekaligus kisah Pandawa dan Korawa yang bertempur di Kurukshetra. Karena Bagawan Byasa sibuk dengan urusan lain, maka Bagawan Wesampayana disuruh mewakilinya. Beliau adalah murid Bagawan Byasa, penulis kisah besar keluarga Bharata atau Mahābhārata. Sesuai keinginan Raja Janamejaya, Bagawan Wesampayana menuturkan sebuah kisah kepada Sang Raja, yaitu kisah sebelum sang raja lahir, kisah Pandawa dan Korawa, kisah perang di Kurukshetra, dan kisah silsilah leluhur sang raja. Wesampayana mula-mula menuturkan kisah leluhur Maharaja Janamejaya (Sakuntala, Duswanta, Bharata, Yayati, Puru, Kuru), kemudian kisah buyutnya, yaitu Pandawa dan Korawa.
Garis keturunan Maharaja Yayati
Leluhur Maharaja Janamejaya yang menurunkan pendiri Dinasti Puru dan Yadu bernama Maharaja Yayati, beliau memiliki dua permaisuri, namanya Dewayani dan Sarmishta. Dewayani melahirkan Yadu dan Turwasu, sedangkan Sarmishta melahirkan Anu, Druhyu, dan Puru. Keturunan Sang Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Sang Puru disebut Paurawa.
Dalam silsilah generasi Paurawa, lahirlah Maharaja Dushyanta, menikahi Sakuntala, yang kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menaklukkan dunia dan daerah jajahannya kemudian dikenal sebagai Bharatawarsha. Sang Bharata menurunkan Dinasti Bharata. Dalam Dinasti Bharata lahirlah Sang Kuru, yang menyucikan sebuah tempat yang disebut Kurukshetra, kemudian menurunkan Kuruwangsa, atau Dinasti Kuru. Setelah beberapa generasi, lahirlah Prabu Santanu, yang mewarisi tahta Hastinapura.
Hastinapura adalah sebuah kota dan Nagar Panchayat di distrik Meerut, Uttar Pradesh, negara bagian India. Hastinapura berasal dari kata Hasti (gajah) + Pura (kota). Banyak kejadian di kisah MahaBharata yang terjadi di Hastinapura. Pada masa kini, kota ini disebut Hastinapur, sebuah kota kecil yang terletak di Uttar Pradesh, jaraknya 120 km dari Delhi dan 37 km dari Meerut. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapur. Populasi sekitar 20.000 jiwa. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan bus dari Meerut yang siap sedia dari jam 7 pagi sampai 9 malam. Jalanan bagus dan bersih dengan pemandangan hijau dan hamparan persawahan di kiri-kanan. Di sana terdapat objek wisata yang menarik untuk dikunjungi seperti Kuil Jain dan Taman Nasional Hastinapur.
Prabu Santanu dan keluarga besarnya: Bisma dan Srikandi, Pandu, Drestarasta dan Gandari, Sakuni, Widura, Balarama, Kresna, Subadra, Pandawa, Korawa
Tersebutlah seorang Raja bernama Pratipa, beliau merupakan salah satu keturunan Sang Kuru atau Kuruwangsa, bertahta di Hastinapura. Raja Pratipa memiliki permaisuri bernama Sunandha dari Kerajaan Siwi, yang melahirkan tiga putera. Di antara ketiga putera tersebut, Santanu dinobatkan menjadi Raja.
Raja Santanu menikahi Dewi Gangga, kemudian berputera 8 orang yang merupakan penjelmaan dari delapan Wasu. Setiap putranya lahir, Ibunya (Dewi Gangga) pergi kesungai dan menenggelamkannya. Hal tersebut terjadi sebanyak tujuh kali. Saat putera yang kedelapan lahir, Raja mengikuti dan mencegah istrinya menenggelamkan anak mereka yang kedelapan. Putera yang selamat itu bernama Dewabrata, yang di kemudian hari dikenal sebagai Bhisma. Raja Santanu menikah sekali lagi dengan seorang puteri nelayan bernama Satyawati. Satyawati melahirkan 2 putera, bernama Chitrāngada dan Wicitrawirya.
7 putra tersebut ditenggelamkan merupakan penjelmaan dari Delapan Wasu yang mengalami kutukan karena perbuatannya mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia untuk menjadi istri putera Raja Pratipa, yaitu Santanu. Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.
Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir berhasil mengakhiri kutukan karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu mereka sendiri, Bisma tidak berhasil mengikuti jejak 7 wasu yang lain karena di cegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun kemudian, Dewi Gangga kemudian menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu di hilir sungai Gangga, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris kerajaan. Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapati, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup agar kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.
Nama Bhishma dalam bahasa Sanskerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.
Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu Chiranjīwin yang hidup abadi sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma mahir dalam menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya.
Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.
Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya.
Saat Amba di menangkan Bhisma, didalam hatinya Ia lebih memilih Salva, seorang raja dari Saubala, begitu pula sebaliknya. Mereka saling menyerahkan hatinya. Raja Salva mencegat Bisma dan terjadilah pertarungan. Pertarungan itu dimenangkan oleh Bisma.
Amba, Ambika, dan Ambalika hendak dinikahkan pada Citranggada, Amba berkata pada Bisma, ’Oh Putra Gangga, tentunya engkau mengentahui apa kata kitab suci. Hatiku telah memilih Sava sebagai suami namun engkau membawa paksa diriku kemari’. Bisma mengakui bahwa Amba di bawa paksa, kemudian dengan pengawalan ang pantas Ia di kembalikan ke Raja salva.
Amba merasa sangat bersukacita, Ia menceritakan apa yang terjadi pada Raja Salva, namun ternyata tidak sesuai dengan harapannya, raja Salva tidak mau menerima Amba lagi karena ia merasa Malu telah dikalahkan dan tidak dapat menyelamatkan pujaan hatinya dulu. Amba di minta kembali kepada Bisma. Amba kemudian di minta kembali ke Hastinapura dan menceritakan apa yang terjadi pada Bisma.
Karena Citrānggada wafat pada suatu pertempuran melawan seorang Raja Gandharva, pemerintahannya digantikan oleh adiknya, Wicitrawirya, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya.
Mendengar penuturan Amba, maka kemudian Bisma kemudian membujuk Wicitrawirya untuk mengawini Amba. Namun Raja yang baru menikahi 2 wanita itu menolak menikahi Amba yang telah menyerahkan hatinya pada orang lainnya. Amba mendengar penolakan Raja dan akhirnya meminta pertanggungjawaban Bisma untuk mengawininya namun Bisma juga menolak karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Ia kemudian berjanji akan mencari cara agar Raja Salva mau menerimanya.
Permulaan Amba merasa gengsi namun setelah enam tahun berjalan dalam kesedihan yang mendalam akhirnya Ia kembali mencari Raja Salva, namun tetap saja Raja itu menolaknya.
Sungguh sangat memelas nasib Amba bertahun-tahun nasibnya terkatung-katung tak tentu dan ia merasa bahwa ini adalah gara-gara Bisma sehingga kemudian menjadi sangat dendam kepada Bisma atas seluruh kejadian yang menimpanya. Ia kemudian berkeliling keseluruh penjuru mencari mengadukan nasibnya pada para ksatria dan meminta bantuan mereka untuk melawan Bisma. Seluruh ksatria saat itu tidak ada yang mau berhadapan dengan Bisma. Ia kemudian mencari perlidungan kepada Yang maha kuasa (subramanyam), Yang maha Kuasa memberikan sebuah karangan bunga lotus kepadanya bahwa barang siapa yang memakai itu akan dapat mengalahkan Bisma.
Sekali lagi ia pergi keseluruh penjuru mencari Ksatria yang ada, namun mereka terlalu gentar untuk melawan Bisma. Terakhir ia memohon kepada Raja Drupada, namun Raja itu juga menolak. Amba putus asa dan meletakan Karangan bunga itu di pintu gerbang Istana dan kemudian masuk menuju hutan. Di Hutan itu ia bertemu dengan beberapa pertapa yang menyarankan Amba untuk memohon bantuan pada Parasurama, guru dari Bisma
Gurunya Bisma, Parasurama, menaruh perhatian terhadap masalah Bisma dan Amba. Ia kemudian bertemu dengan Bisma, dari mulai membujuk halus hingga terjadilah pertarungan antara guru dan murid. Ternyata sang Guru juga dapat dikalahkan oleh muridnya. Kejadian itu juga yang mimicu sumpah Parasurama bahwa Ia tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya.
Setelah tidak ada satu manusiapun yang mampu. Akhirnya Amba menuju Himalaya, melakukan tapabrata keras dan memasrahkan persoalan ini kepada Yang Mahakuasa, Shiva. Ditengah pertapaannya itu, Shiva hadir dihadapannya dan memberikan restu bahwa di kehidupan mendatang Ia akan dapat membunuh Bhisma. Amba senang mendengar ini namun ia sudah tidak sabar lagi menanti saat itu tiba. Ia kemudian membakar dirinya agar dapat segera membunuh Bisma dengan tangannya Sendiri.
Berkat Deva Shiva menjadikan Ia lahir sebagai anak Raja Drupada. Beberapa tahun kemudian setelah kelahirannya. Ia juga menemukan karangan bunga yang pernah ia letakan di gerbang Istana. Karangan buga itu masih ada, karena tidak ada seorangpun yang berani mengambilnya untuk berhadapan melawan Bisma. Ia kemudian memakainya. Raja Drupada melihat juga hal itu dan merinding melihatnya, kemudian Raja mengasingkannya di sebuah Hutan. Di hutan itu, Ia menggembleng diri dan melakukan tapabrata. Kelaminnya berubah menjadi Laki-laki dan Iapun dikenal denan nama Srikandi. Beberapa tahun kemudia Bisma tewas di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.
Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), yang sebenarnya telah wafat. Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo’a agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.
Veris Jawa:
Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak menjadi raja.
Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya adalah Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma suatu saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.
Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya prabu Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma seayah lain ibu.
Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Byasa, putra Durgandini dari suami pertama. Byasa-lah yang kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan Korawa. Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang Bharatayuddha. Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri
Adik tiri Bisma, Wicitrawirya wafat tak lama setelah pernikahannya. Ia tidak memiliki keturunan. Oleh karena itu, Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi akan mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan.
Byasa bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda). Beliau juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana. Beliau adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu MahaBharata.
Wisnupurana menyatakan bahwa alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Caturyuga (empat Yuga). Dwaparayuga adalah Yuga yang ketiga. Kitab Purana (Buku 3, Chanto 3):
“Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa.”
Krishna Dwaipayana membagi Weda menjadi empat bagian (Caturweda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya “Pembagi Weda”. Kata Wyasa berarti “membelah”, “memecah”, “membedakan”. Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.
Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa Brahma, Hyang Ganapati (Ganesha) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan MahaBharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya. Setelah dua setengah tahun, MahaBharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
Orangtua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati (alias Durgandini atau Gandawati). Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu.
Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk.
Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.
Setelah lamaran disetujui oleh orangtua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.
Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam MahaBharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya.
Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam MahaBharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yadnya (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.
Versi Jawa
Abyasa merupakan putra pasangan Parasara dan Durgandini. Dikisahkan Durgandini menderita bau amis pada badannya semenjak lahir. Ia diobati Parasara seorang pendeta muda, di atas perahu sampai sembuh. Keduanya saling jatuh hati dan melakukan sanggama, sehingga lahir Abyasa. Abyasa tidak lahir sendiri. Parasara juga mencipta perahu, penyakit, dan alat-alat pengobatannya menjadi manusia berjumlah enam, yaitu Setatama, Rekathawati, Bimakinca, Kincaka, Rupakinca, dan Rajamala. Semuanya dipersaudarakan dengan Abyasa.
Durgandini kemudian menjadi permaisuri Sentanu raja Hastina. Ia melahirkan Citranggada dan Citrawirya. Masing-masing secara berturut-turut naik takhta menggantikan Sentanu. Namun, keduanya masih muda. Citranggada meninggal saat belum menikah, sedangkan Citrawirya meninggal saat belum memiliki putra.
Durgandini kemudian memanggil Abyasa untuk menikahi kedua janda Citrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika. Saat itu ia baru saja bertapa sehingga keadaan tubuhnya sangat buruk dan mengerikan. Ambika ketakutan saat pertama kali bertemu sampai memejamkan mata. Abyasa meramalkan kalau Ambika kelak melahirkan putra buta. Sementara itu, Ambalika memalingkan muka karena takut. Abyasa meramalkan kelak Ambalika akan melahirkan bayi berleher cacad. Abyasa juga menikahi dayang Ambalika bernama Datri. Perempuan itu ketakutan dan mencoba lari. Ia pun ditramal kelak akan melahirkan putra berkaki pincang. Akhirnya, Ambika, Ambalika, dan Datri masing-masing melahirkan putra yang diberi nama Dretarastra, Pandu, dan Widura.
Pewaris sah takhta Hastina sesungguhnya adalah Bisma putra Sentanu dari istri pertama. Namun ia telah bersumpah tidak akan menjadi raja, sehingga sebagai pengganti Citrawirya, Abyasa pun naik takhta sampai kelak ketiga putranya dewasa. Setelah tiba saatnya, Abyasa pun turun takhta digantikan Pandu sebagai raja Hastina selanjutnya. Ia kembali menjadi pendeta di pertapaan Ratawu yang terletak di pegunungan Saptaarga. Abyasa merupakan pendeta agung yang sangat dihormati. Tidak hanya keluarga Hastina saja yeng menjadikannya tempat meminta nasihat, namunjuga dari negeri-negeri lainnya.
Versi pewayangan mengisahkan kematian Abyasa sesaat sesudah perang Baratayuda usai, yaitu ketika keturunannya yang bernama Parikesit cucu Arjuna dilahirkan. Konon, atas jasa-jasanya selama hidup di dunia, datang kereta emas dari kahyangan menjemput Abyasa. Ia pun naik ke sorga bersama seluruh raganya. Nama Dipayana kemudian diwarisi oleh Parikesit.
Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Dretarastra.
Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putera yang buta (Dretarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Atas anugerah Bagawan Byasa, seorang pelayan yang turut serta dalam upacara tersebut melahirkan seorang putera, bernama Widura yang sedikit pincang.
Pandu, merupakan anak kedua, Kakaknya adalah Dretarasta yang sebenarnya merupakan pewaris dari Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura, tetapi karena buta maka tahta diserahkan kepada Pandu dan Widura, yang tidak memiliki ilmu kesaktian apapun tetapi memiliki ilmu kebijaksanaan yang luar biasa terutama bidang ketatanegaraan.
Nama Pandu atau pāṇḍu dalam bahasa Sanskerta berarti pucat, dan kulit beliau memang pucat, karena ketika ibunya (Ambalika) menyelenggarakan upacara putrotpadana untuk memperoleh anak, ia berwajah pucat.
Di kalangan Jawi (jawa Kuna/Sunda), “Pandu” berasal dari “Wandu” yang artinya bukan laki bukan perempuan, tetapi bukan banci. Tegasnya, sajeroning lanang ana wadon, sajeroning wadon ana lanang, yaitu manusia yang sudah menemukan jodohnya dari dalam dirinya sendiri. Gusti Pangeran dan hambanya sudah bersatu dan selalu berjamaah.
Pandu merupakan seorang pemanah yang mahir. Ia memimpin tentara Dretarastra dan juga memerintah kerajaan untuknya. Pandu menaklukkan wilayah Dasarna, Kashi, Anga, Wanga, Kalinga, Magadha, dan lain-lain.
Saat berburu di hutan, tanpa sengaja Pandu memanah seorang resi yang sedang bersenggama dengan istrinya. Atas perbuatan tersebut, Sang Resi mengutuk Pandu agar kelak ia meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Sejak saat itu apabila nanti Pandu bersenggama dengan Istrinya Ia akan mati.
Dalam suatu sayembara, Prabu Pandu berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan Kunti putri dari Prabu Kuntiboja. Prabu Salya dari kerajaan Madra yang terlambat datang menantang Pandu untuk mendapatkan Dewi Kunti dengan taruhannya adalah Dewi Madri adiknya.
Salya dan Pandu kemudian bertanding dan Pandu menang sehingga juga mendapatkan Madri sebagai istri kedua. Madri dinikahkan dengan Pandu untuk mempererat hubungan antara Hastinapura dengan Kerajaan Madra.
Salya adalah raja Kerajaan Madra. Raja Kerajaan Madra semula bernama Artayana, yang memiliki dua orang anak bernama Salya dan Madri. Setelah Artayana meninggal, Salya menggantikannya sebagai raja. Merujuk pada nama ayahnya, Salya dalam MahaBharata sering pula disebut Artayani. Salya memiliki dua orang putra bernama Rukmarata dan Rukmanggada. Namun siapa nama istrinya atau ibu dari kedua anak tersebut tidak diketahui dengan jelas. Versi Bharatayuddha, yaitu sebuah naskah berbahasa Jawa Kuno menyebut nama istri Salya adalah Satyawati. Dari perkawinan itu kemudian lahir Rukmarata.
Versi Jawa
Kisah perkawinan Salya dan Setyawati terdapat dalam versi pewayangan Jawa. Salya yang sewaktu muda bernama Narasoma pergi berkelana karena menolak dijodohkan oleh ayahnya. Di tengah jalan ia bertemu seorang brahmana raksasa bernama Resi Bagaspati yang ingin menjadikannya sebagai menantu. Bagaspati mengaku memiliki putri cantik bernama Pujawati yang mimpi bertemu Narasoma dan jatuh hati kepadanya. Narasoma menolak lamaran Bagaspati karena yakin Pujawati pasti juga berparas raksasa. Keduanya pun bertarung. Narasoma kalah dan dibawa Bagaspati ke tempat tinggalnya di Pertapaan Argabelah. Sesampainya di Argabelah, Narasoma terkejut mengetahui bahwa Pujawati ternyata benar-benar cantik. Ia pun berubah pikiran dan bersedia menikahi putri Bagaspati tersebut. Narasoma yang sombong merasa jijik memiliki mertua seorang raksasa. Pujawati yang lugu menyampaikan hal itu kepada Bagaspati. Bagaspati menyuruh putrinya itu memilih antara ayah atau suami. Ternyata Pujawati memilih suami. Bagaspati bangga mendengarnya dan mengganti nama Pujawati menjadi Setyawati.
Setyawati menyampaikan kepada Narasoma bahwa ayahnya siap mati daripada mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka. Bagaspati rela dibunuh asalkan Setyawati jangan sampai dimadu. Narasoma bersedia. Ia kemudian menusuk Bagaspati namun tidak mempan. Bagaspati sadar kalau memiliki ilmu kesaktian bernama Candabirawa. Ia pun mewariskan ilmu tersebut kepada Narasoma terlebih dulu. Narasoma kemudian menusuk siku Bagaspati, yaitu tempat titik kelemahannya. Kali ini Bagaspati tewas seketika. Narasoma kemudian membawa Setyawati pulang ke Mandaraka.
Mandrapati menyambut kedatangan Narasoma dan Setyawati dengan gembira. Namun ia berubah menjadi sedih begitu mendengar kematian Bagaspati yang ternyata merupakan sahabat baiknya. Mandrapati pun marah dan mengusir Narasoma pergi dari istana. Madrim yang masih rindu segera menyusul kepergian kakaknya itu. Narasoma dan Madrim tiba di Kerajaan Mandura di mana sedang diadakan sayembara untuk mendapatkan putri negeri tersebut yang bernama Kunti. Dengan mengerahkan Candabirawa, Salya berhasil mengalahkan semua pelamar dan memenangkan Kunti.
Pandu pangeran dari Hastina datang terlambat dan memutuskan untuk pulang. Narasoma mencegah dan menantangnya. Namun Pandu tidak mau melayani tantangan itu karena Narasoma sudah ditetapkan sebagai pemenang. Narasoma yang sombong terus memaksa, bahkan menyerahkan Kunti dan Madrim sekaligus jika Pandu mampu mengalahkan dirinya. Pandu terpaksa melayani tantangan Narasoma. Narasoma pun mengerahkan ilmu Candabirawa. Dari jarinya muncul raksasa kerdil tapi ganas, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Pandu sempat terdesak. Atas nasihat pembantunya yang bernama Semar, ia pun mengheningkan cipta menyerahkan diri kepada Tuhan. Anehnya, dengan cara tersebut Candabirawa justru lumpuh dengan sendirinya.
Narasoma menyerah kalah. Tujuannya ikut sayembara bukan karena menginginkan Kunti, namun hanya sekadar untuk mencoba keampuhan Candabirawa saja. Sesuai perjanjian, Kunti dan Madrim pun diserahkan kepada Pandu. Narasoma kemudian kembali ke Mandaraka dan dikejutkan oleh kematian ayahnya yang serba mendadak. Konon, Mandrapati sangat sedih atas kematian Bagaspati yang tewas dibunuh Narasoma. Ia merasa telah gagal menjadi ayah yang baik dan memutuskan untuk bunuh diri menyusul sahabatnya itu. Narasoma kemudian menggantikan kedudukan Mandrapati sebagai raja, bergelar Salya. Pemerintahannya didampingi Tuhayata sebagai patih.
Meskipun sudah menjadi raja, Salya tetap bersifat sombong. Ia langsung menerima lamaran Duryudana raja Hastina yang merupakan raja terkaya di dunia saat itu untuk menikahi Erawati, putri sulungnya. Namun, Erawati kemudian hilang diculik orang. Erawati berhasil diselamatkan oleh Baladewa yang saat itu menyamar sebagai pendeta muda. Menurut perjanjian, seharusnya Erawati diserahkan kepada Baladewa. Namun hal itu ditunda-tunda karena Salya lebih suka memiliki menantu seorang raja. Baru setelah ia tahu kalau Baladewa ternyata raja Kerajaan Mandura, Erawati pun diserahkan kepadanya. Salya kembali menerima lamaran Duryudana untuk Surtikanti. Namun putri keduanya itu diculik dan dinikahi Karna. Duryudana merelakannya karena Karna banyak berjasa kepadanya. Ia kemudian menikahi putri Salya yang lain, yaitu Banowati.
Kunti merupakan puteri Raja Kuntibhoja dari Wangsa Wresni, Ia adalah saudara dari Basudewa yang merupakan ayah dari Baladewa, Kresna dan Subadra. Ayah Kunti adalah Raja Surasena dari Wangsa Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik Basudewa, ayah Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja Kuntiboja yang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia diberi nama Kunti. Setelah Kunti menjadi puterinya, Raja Kuntibhoja dianugerahi anak.
Pada saat Kunti masih muda, Ia menjamu dengan baik tamu ayahnya, yaitu seorang pendeta bernama Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, yaitu semacam mantra agar mampu memanggil Dewa mana saja dan memberikannya anak tanpa perlu menjalani kehamilan. Ketika Kunti bertanya mengapa ia diberikan mantra itu, Resi tersebut menjawab bahwa itu akan diperlukannya kelak kemudian.
Karena tidak yakin seampuh apa mantra itu, maka Kunti mencoba menggunakan mantra Adityahredaya sambil memandang matahari terbit. Akibatnya, dewa penguasa matahari yaitu Surya muncul dan siap menganugerahi Kunti seorang putra. Kunti yang ketakutan menjawab bahwa dirinya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya saja. Ia menolak memiliki anak karena saat itu dirinya belum menikah. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Surya kemudian bersabda, dan seketika itu pula Kunti mengandung. Namun berkat bantuan dewa matahari tersebut, dalam waktu singkat Kunti langsung melahirkan seorang putera. Surya lalu kembali ke kahyangan setelah memulihkan keperawanan Kunti.
Versi Jawa
Guru Kunti bernama Resi Druwasa, sedangkan mantra yang diajarkannya bernama Aji Punta Wekasing Rasa Cipta Tunggal Tanpa Lawan. Dalam versi ini, yang membantu kelahiran Karna bukan Batara Surya, melainkan Resi Druwasa sendiri. Dengan kesaktiannya, ia membantu Kunti melahirkan “putera Surya” itu melalui telinga sehingga keperawanannya tetap terjaga. Kisah versi Jawa ini mungkin terpengaruh oleh makna harfiah Karna, yaitu “telinga”. Sementara versi asli menyebut Kunti melahirkan secara normal dengan bantuan Surya.
Kunti tidak ingin memiliki putera semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan menghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata, dan anak tersebut diberi nama Karna.
Pandu menanggung kutukan bahwa ia akan meninggal apabila bersenggama, maka ia tidak bisa memiliki keturunan. Akhirnya Pandu dan istrinya mengembara di hutan sebagai pertapa dan meninggalkan Hastinapura. Di sana, Kunti mengeluarkan mantra rahasianya untuk memangil para Dewa. Ia menggunakan mantra tersebut tiga kali untuk memanggil Dewa Yama, Bayu, dan Indra. Dari ketiga Dewa tersebut ia memperoleh tiga putera, yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memberikan kesempatan bagi Madri untuk memanggil Dewa. Madri memanggil Dewa Aswin, dan mendapatkan putera kembar bernama Nakula dan Sadewa.
Lima belas tahun setelah ia hidup membujang, ketika Kunti dan putera-puteranya berada jauh, Tergodalah Pandu dan mencoba untuk bersenggama dengan Madri. Atas tindakan tersebut, Pandu wafat sesuai dengan kutukan yang diucapkan oleh resi yang pernah dibunuhnya. Baik Kunti maupun Madri bersedih dan hendak melakukan Satya, namun Madri menyatakan bahwa Ia yang menyebabkan kematian, maka biarkan ia yang melakukan Satya dan menitipkan putera kembarnya, Nakula dan Sadewa, agar dirawat oleh Kunti sementara ia membakar dirinya sendiri untuk menyusul suaminya ke alam baka.
Versi Jawa
Dalam pewayangan, tokoh Pandu (Bahasa Jawa: Pandhu) merupakan putera kandung Byasa yang menikahi Ambalika, janda Wicitrawirya. Bahkan, Byasa dikisahkan mewarisi takhta Hastinapura sebagai raja sementara sampai Pandu dewasa. Pandu digambarkan berwajah tampan namun memiliki cacat di bagian leher, sebagai akibat karena ibunya memalingkan muka saat pertama kali menjumpai Byasa. Para dalang mengembangkan kisah masa muda Pandu yang hanya tertulis singkat dalam MahaBharata. Misalnya, Pandu dikisahkan selalu terlibat aktif dalam membantu perkawinan para sepupunya di Mathura. Pandu pernah diminta para dewa untuk menumpas musuh kahyangan bernama Prabu Nagapaya, raja raksasa yang bisa menjelma menjadi naga dari negeri Goabarong. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Pandu mendapat hadiah berupa pusaka minyak Tala.
Pandu kemudian menikah dengan Kunti setelah berhasil memenangkan sayembara di negeri Mathura. Ia bahkan mendapatkan hadiah tambahan, yaitu Puteri Madri, setelah berhasil mengalahkan Salya, kakak sang puteri. Di tengah jalan ia juga berhasil mendapatkan satu puteri lagi bernama Gandari dari negeri Plasajenar, setelah mengalahkan kakaknya yang bernama Prabu Gendara. Puetri yang terakhir ini kemudian diserahkan kepada Dretarastra, kakak Pandu.
Pandu naik takhta di Hastina menggantikan Byasa dengan bergelar “Prabu Pandu Dewanata” atau “Prabu Gandawakstra”. Ia memerintah didampingi Gandamana, pangeran Panchala sebagai patih. Tokoh Gandamana ini kemudian disingkirkan oleh Sangkuni, adik Gandari secara licik.
Dari kedua istrinya, Pandu mendapatkan lima orang putra yang disebut Pandawa. Berbeda dengan kitab MahaBharata, kelimanya benar-benar putera kandung Pandu, dan bukan hasil pemberian dewa. Para dewa hanya dikisahkan membantu kelahiran mereka. Misalnya, Bhatara Dharma membantu kelahiran Yudistira, dan Bhatara Bayu membantu kelahiran Bima. Kelima putra Pandu semuanya lahir di Hastina, bukan di hutan sebagaimana yang dikisahkan dalam MahaBharata.
Kematian Pandu dalam pewayangan bukan karena bersenggama dengan Madri, melainkan karena berperang melawan Prabu Tremboko, muridnya sendiri. Dikisahkan bahwa Madri mengidam ingin bertamasya naik Lembu Nandini, wahana Batara Guru. Pandu pun naik ke kahyangan mengajukan permohonan istrinya. Sebagai syarat, ia rela berumur pendek dan masuk neraka. Batara Guru mengabulkan permohonan itu. Pandu dan Madri pun bertamasya di atas punggung Lembu Nandini. Setelah puas, mereka mengembalikan lembu itu kepada Batara Guru. Beberapa bulan kemudian, Madri melahirkan bayi kembar bernama Nakula dan Sadewa.
Sesuai kesanggupannya, Pandu pun berusia pendek. Akibat adu domba dari Sangkuni, Pandu pun terlibat dalam perang melawan muridnya sendiri, yaitu seorang raja raksasa dari negeri Pringgadani bernama Prabu Tremboko. Perang ini dikenal dengan nama Pamoksa. Dalam perang itu, Tremboko gugur terkena anak panah Pandu, namun ia sempat melukai paha lawannya itu menggunakan keris bernama “Kyai Kalanadah”. Akibat luka di paha tersebut, Pandu jatuh sakit. Ia akhirnya meninggal dunia setelah menurunkan wasiat agar Hastinapura untuk sementara diperintah oleh Dretarastra sampai kelak Pandawa dewasa. Antara putera-puteri Pandu dan Tremboko kelak terjadi perkawinan, yaitu Bima dengan Hidimbi, yang melahirkan Gatotkaca, seorang kesatria berdarah campuran, manusia dan raksasa.
Istilah Pamoksa seputar kematian Pandu versi Jawa berbeda dengan istilah moksa dalam agama Hindu. Dalam “Pamoksa”, Pandu meninggal dunia musnah bersama seluruh raganya. Jiwanya kemudian masuk neraka sesuai perjanjian. Atas perjuangan putera keduanya, yaitu Bima beberapa tahun kemudian, Pandu akhirnya mendapatkan tempat di sorga. Versi lain yang lebih dramatis mengisahkan Pandu tetap memilih hidup di neraka bersama Madri sesuai janjinya kepada dewa. Baginya, tidak menjadi masalah meskipun ia tetap tinggal di neraka, asalkan ia dapat melihat keberhasilan putera-puteranya di dunia. Perasaan bahagia melihat dharma bakti para Pandawa membuatnya merasa hidup di sorga.
Drestarastra, sebagai anak tertua sebenarnya yang berhak menjadi Raja Hastinapura karena ia merupakan putera Wicitrawirya yang tertua. Akan tetapi Karena Dretarastra terlahir buta, maka tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya, yaitu Pandu. Setelah Pandu wafat, Dretarastra menggantikannya sebagai raja (kadangkala disebut sebagai pejabat pemerintahan untuk sementara waktu).
Drestarastra menikahi Gandari yang merupakan puteri Subala, Raja Gandhara (di masa sekarang disebut Kandhahar), yaitu wilayah yang meliputi Pakistan barat daya dan Afghanistan timur, dan namanya diambil dari sana. Gandari menikahi Dretarastra, pangeran tertua di Kerajaan Kuru. Ketika mengetahui calon suaminya Buta, maka ia lalu menutupi matanya sendiri degan kain, “Kalau suamiku tidak bisa melihat lalu buat apa ku melihat”. Semenjak itu Gandari sengaja menutup matanya sendiri agar tidak bisa menikmati keindahan dunia karena ingin mengikuti jejak suaminya.
Saat Gandari hamil dalam jangka panjang yang tidak wajar, ia memukul-mukul kandungannya dalam keadaan cemburu pada Kunti yang telah memberikan Pandu tiga orang putera. Atas tindakannya, Gandari melahirkan gumpalan daging berwarna keabu-abuan. Kemudian Gandari memuja Byasa, seorang pertapa sakti, yang kemudian memberi berkah seratus orang anak kepada Gandari. Kemudian Byasa memotong gumpalan daging tersebut menjadi seratus bagian dan dimasukkan ke dalam guci kemudian dikubur selama setahun. Setelah guci-guci tersebut digali kembali, dari setiap potongan daging itu kemudian tumbuh seorang anak, yang kemudian menjadi Korawa. Di antara Korawa, yang terkemuka adalah Duryodana dan Dursasana,dan adik-adiknya yang lain.
Tanda-tanda yang buruk mengiringi kemunculannya dari dalam pot. Para brahmana di keraton merasakan adanya tanda-tanda akan bencana yang buruk. Widura mengatakan bahwa jika tanda-tanda seperti itu mengiringi kelahiran putranya, itu tandanya kekerasan akan mengakhiri dinasti tersebut. Widura dan Bisma menyarankan agar putera tersebut dibuang, namun Dretarastra tidak mampu melakukannya karena rasa cinta dan ikatan emosional terhadap putera pertamanya itu. Diantara korawa terdapat seorang puteri bernama Dursala yang menikahi Jayadrata.
Meskipun putera-putera Gandari disebut sebagai tokoh jahat, ajaran moral yang tinggi dalam MahaBharata mengacu kepada Gandari. Ia berulang kali menasihati puteranya agar mengkikuti dharma dan berdamai dengan Pandawa. Gandari dekat dengan Kunti yang menghormatinya seperti seorang kakak.
Pada saat perang antara Korawa dan Pandawa berkecamuk, satu-persatu putera Gandari gugur dalam pertempuran, hingga akhirnya hanya Duryodana yang tersisa. Takut akan kehancuran keturunannya, Gandari memberi anugerah kepada Duryodana agar puteranya tersebut mendapat kekebalan terhadap berbagai serangan musuh. Ia menyuruh agar Duryodana mandi dan setelah itu datang menemui ibunya dalam keadaan telanjang bulat. Pada saat Duryodana pergi untuk menemui ibunya, ia berpapasan dengan Kresna yang baru saja mengunjungi Gandari. Kresna mencemooh Duryodana yang tak tahu malu karena mau menghadap ibunya sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Oleh karena malu terhadap ejekan Kresna, Duryodana mengambil kain dan menutupi wilayah kemaluannya, termasuk paha. Setelah itu ia pergi menemui ibunya.
Ketika Duryodana tiba, Gandari langsung membuka penutup matanya dan melihat Duryodana. Pada saat matanya terbuka, sinar ajaib muncul dan memberi kekuatan kepada Duryodana. Namun ketika ia mengetahui bahwa puteranya menutupi wilayah kemaluannya termasuk paha, Gandari mengatakan bahwa wilayah tersebut tidak akan kebal oleh serangan musuh karena tidak mendapat siraman kekuatan. Prediksi Gandari menjadi kenyataan. Pada saat Duryodana bertarung dengan Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas, Duryodana gugur perlahan-lahan karena pahanya yang tidak kebal dihantam oleh gada Bima.
Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berakhir, Gandari meratapi kematian seratus putera-puteranya. Gandari menghujat Kresna yang membiarkan perang berkecamuk. Ia juga menyalahkan Kresna yang tidak mampu mencegah peperangan dan tidak bisa mendamaikan kedua pihak. Kresna berkata bahwa kewajibannya adalah melindungi kebenaran, bukan mencegah peperangan. Kemudian Gandari mengutuk Kresna, bahwa keluarga Krena, yaitu Wangsa Wresni, akan binasa karena saling membantai sesamanya. Kresna menerima kutukan tersebut dengan senyuman dan sadar bahwa Wangsa Wresni tidak akan terkalahkan kecuali oleh sesamanya. Tiga puluh enam tahun setelah kutukan tersebut diucapkan, Wangsa Wresni melakukan pembantaian besar-besaran terhadap keluarga mereka sendiri. Mereka saling membunuh sesama. Hanya Kresna, Baladewa, dan para wanita yang bertahan hidup. Setelah itu, kediaman Wangsa Wresni, yaitu Kerajaan Dwaraka, tenggelam ke dalam lautan dan memusnahkan jejak mereka. Kresna dan Baladewa bertapa ke dalam hutan dan moksa di sana, sementara para wanita mengungsi ke Kurukshetra.
Versi Jawa
Dretarastra dalam pewayangan Jawa disebut sebagai putra kandung Abyasa. Dretarastra atau kadang disingkat Destarata, dilahirkan oleh Ambika dalam keadaan buta sebagai pengingat karena ketika pertama kali berjumpa dengan Abyasa, ibunya itu memejamkan mata. Kedatangan Abyasa ke negeri Hastina ialah atas undangan ibunya, yaitu Durgandini untuk menikahi janda-janda Citrawirya. Tujuannya ialah untuk menyambung garis keturunan Wangsa Bharata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu Bisma, telah bersumpah untuk hidup wahdat. Sewaktu kecil Dretarastra serta kedua adiknya, yaitu Pandu dan Widura berguru kepada Bisma tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang tunanetra, namun Dretarastra mampu menguasai ilmu Lebur Geni sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya.
Dikisahkan Pandu pulang dari Mandura dengan membawa Kunti sebagai hadiah sayembara, serta Madrim putri dari Mandaraka. Di tengah jalan rombongan itu dihadang oleh Gendara raja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara di Mandura. Pertempuran terjadi antara keduanya dan berakhir dengan kematian Gendara. Ia berwasiat menitipkan kedua adiknya, yaitu Gendari dan Sengkuni untuk dibawa Pandu. Sesampainya di Hastina, Pandu menyerahkan ketiga putri boyongannya untuk dipilih salah satu sebagai istri Dretarastra. Kakaknya itu memilih Gendari yang diramalkannya akan memberinya banyak putra. Perkawinan tersebut memang melahirkan seratus orang anak, yang dikenal dengan nama Korawa.
Karena menyandang cacad fisik, takhta Hastina pun diserahkan kepada Pandu, sedangkan Abyasa yang bertindak sebagai raja sementara kembali ke pertapaannya di Saptaarga. Sementara itu, Dretarastra diangkat sebagai adipati (raja bawahan) di daerah Gajah Oya, sedangkan Widura di Pagombakan.
Sakuni atau Sangkuni, adalah kakak dari Gandari sehingga merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Mereka berasal dari Kerajaan Gandhara. Ayah Sakuni bernama Suwala. Pada suatu hari adik perempuannya Gandari dilamar untuk dijadikan sebagai istri Dretarastra, seorang pangeran dari Hastinapura yang menderita tunanetra. Sangkuni marah atas keputusan ayahnya yang menerima lamaran tersebut. Menurutnya, Gandari seharusnya menjadi istri Pandu, adik Dretarastra.
Namun karena semuanya sudah terjadi, ia pun mengikuti Gandari yang selanjutnya menetap di istana Hastinapura. Sakuni dikatakan sebagai reinkarnasi dari Dwapara sedangkan Duryodana reinkarnasi dari Kali, yaitu sejenis dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di muka bumi.
Versi Jawa
Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sangkuni bukan kakak dari Gandari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka.
Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gandari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Kunti, putri negeri tersebut.
Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Suman menuju Hastina.
Sesampainya di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Dretarastra untuk dijadikan istri. Gandari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Korawa, anak-anak Dretarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.
Pada suatu hari Suman berhasil mengadu domba antara Pandu dengan muridnya yang berwujud raja raksasa bernama Tremboko. Maka terciptalah ketegangan di antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Pringgadani. Pandu pun mengirim Gandamana sebagai duta perdamaian. Gandamana adalah pangeran dari Kerajaan Pancala yang memilih mengabdi sebagai patih di Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Pandu. Suman yang sangat berambisi merebut jabatan patih menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan Gandamana.
Di tengah jalan, Suman menjebak Gandamana sehingga jatuh ke dalam perangkapnya.
Suman kemudian kembali ke Hastina untuk melapor kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan memihak musuh. Pandu yang saat itu sedang labil segera memutuskan untuk mengangkat Suman sebagai patih baru. Tiba-tiba Gandamana yang ternyata masih hidup muncul dan menyeret Suman. Suman dihajar habis-habisan sehingga wujudnya yang tampan berubah menjadi jelek.
Sejak saat itu, Suman pun terkenal dengan sebutan Sangkuni, berasal dari kata saka dan uni, yang bermakna “dari ucapan”. Artinya, ia menderita cacad buruk rupa adalah karena hasil ucapannya sendiri.
Setelah Pandu meninggal dunia, pusakanya yang bernama Minyak Tala dititipkan kepada Dretarastra supaya kelak diserahkan kepada para Pandawa jika kelak mereka dewasa. Minyak Tala sendiri merupakan pusaka pemberian dewata sebagai hadiah karena Pandu pernah menumpas musuh kahyangan bernama Nagapaya.
Beberapa tahun kemudian, terjadi perebutan antara para Pandawa melawan para Korawa yang ternyata juga menginginkan Minyak Tala. Dretarastra memutuskan untuk melemparkan minyak tersebut beserta wadahnya yang berupa cupu sejauh-jauhnya. Pandawa dan Korawa segera berpencar untuk bersiap menangkapnya.
Namun, Sangkuni dengan licik lebih dahulu menyenggol tangan Dretarastra ketika hendak melemparkan benda tersebut. Akibatnya, sebagian Minyak Tala pun tumpah. Sangkuni segera membuka semua pakaian dan bergulingan di lantai untuk membasahi seluruh kulitnya dengan minyak tersebut.
Sementara itu, cupu beserta sisa Minyak Tala jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur tua. Para Pandawa dan Korawa tidak mampu mengambilnya. Tiba-tiba muncul seorang pendeta dekil bernama Drona yang berhasil mengambil cupu tersebut dengan mudah. Tertarik melihat kesaktiannya, para korawa dan Pandawa pun berguru kepada pendeta tersebut.
Sangkuni yang telah bermandikan Minyak Tala sejak saat itu mendapati seluruh kulitnya kebal terhadap segala jenis senjata. Meskipun ilmu bela dirinya rendah, namun tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus kulitnya.
Widura adalah adik tiri Pandu dan Dretarasta karena memiliki ayah yang sama, tetapi lain ibu. Diceritakan bahwa pada saat Ambalika diminta untuk menghadap Resi Byasa untuk memperoleh keturunan, ia menolak karena merasa takut dengan raut wajah sang resi yang sangat dahsyat. Demi memenuhi permintaan mertuanya, yaitu Satyawati, Ambalika mengirimkan seorang pelayan untuk menemui Resi Byasa sendirian di dalam sebuah kamar. Pelayan tersebut melayani sang resi dengan baik sehingga sang resi berkata bahwa kelak anak yang akan dilahirkan dari rahim pelayan tersebut akan berperilaku mulia. Resi Byasa juga berkata bahwa anak yang akan dilahirkan sang pelayan merupakan penjelmaan Dewa Dharma. Namun satu hal yang membuat Satawati kecewa yakni putera tersebut bukanlah keturunan menantunya, melainkan keturunan seorang pelayan.
Saat Widura masih muda, ia belajar di bawah bimbingan Bisma bersama dengan kedua orang saudaranya. Menurut MahaBharata, ia paling bijaksana jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Ia belajar menjadi menteri raja, sementara Pandu diangkat menjadi panglima perang, sedangkan Dretarastra dipilih sebagai putera mahkota. Karena Dretarastra buta, Pandu menggantikannya dan memerintah atas nama Dretarastra, sedangkan Widura menjadi penasihat raja dan menemani Dretarastra.
Widura merupakan orang yang tanggap ketika timbul niat jahat di hati Dretarastra dan Duryodana untuk menyingkirkan para Pandawa. Maka sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata untuk berlibur, Widura memperingati Yudistira agar berhati-hati terhadap para Korawa dan ayah mereka, yaitu Dretarastra. Saat keselamatan para Pandawa dan ibunya terancam di Waranawata, berkali-kali Widura mengirimkan pesuruh untuk membantu para Pandawa meloloskan diri dari setiap bencana yang menimpanya.
Dalam pertikaian antara Korawa dan Pandawa mengenai masalah Hastinapura, Widura telah berusaha untuk mendamaikannya, mengingat bahwa kedua belah pihak adalah satu keluarga dan saudara. Dalam usahanya mencari perdamaian ia menghubungi sesepuh-sesepuh Pandawa dan Korawa, antara lain Resi Bisma, Resi Drona, Prabu Dretarasta, Sri Kresna, Yudistira dan Duryodana serta menyatakan bahwa ialah yang menulis piagam penyerahan Hastinapura dari Resi Byasa (Abiyasa) kepada Prabu Dretarasta sebagai pemangku kerajaan setelah Prabu Pandudewanata mangkat. Ketika perang di Kurukshetra berkecamuk, Widura tetap tinggal di Hastinapura meskipun ia tidak memihak para Korawa.
Versi Jawa
Widura sering pula disebut dengan nama Yamawidura. Ia berkedudukan sebagai adipati Pagombakan, yaitu sebuah negeri kecil bawahan Hastina. Widura merupakan putra ketiga Abyasa yang lahir dari dayang bernama Datri. Abyasa kemudian diperintah ibunya (Durgandini) untuk “berhubungan” dengan Ambalika sekali lagi. Ambalika memerintahkan dayangnya yang bernama Datri supaya menyemar sebagai dirinya. Ternyata Datri juga ketakutan saat bertemu dengan Abyasa. Ia mencoba lari ke luar kamar. Akibatnya, Datri pun melahirkan bayi berkaki pincang, yang diberi nama Widura.
Widura menikah dengan Padmarini, putri Dipacandra dari Pagombakan, bawahan negeri Hastina. Widura kemudian menggantikan kedudukan Dipacandra sepeninggal mertuanya itu. Yang menjabat sebagai patih di Pagombakan adalah Jayasemedi. Widura memiliki putra bernama Sanjaya yang menjadi juru penuntun Dretarastra. Sementara itu, dalam versi aslinya, antara Widura dengan Sanjaya sama sekali tidak terdapat hubungan darah.
Sepeninggal Pandu, kelima putranya yang disebut Pandawa tidak menetap di istana Hastina, melainkan tinggal bersama Widura di Pagombakan. Widura berhasil mendidik kelima keponakannya itu menjadi manusia-manusia utama. Dalam dunia politik, Widura bermusuhan dengan Sangkuni, adik ipar Dretarastra yang berpangkat patih. Sangkuni sendiri menanamkan kebencian di hati para keponakannya, yaitu Korawa untuk membenci Pandawa sejak kecil.
Ketika Pandawa hendak diserahi takhta Hastina warisan Pandu, mereka terlebih dulu dijebak oleh para Korawa dalam Balai Sigala-gala yang dibakar. Namun, karena Widura membangun terowongan rahasia di bawah gedung tersebut, Pandawa dan ibunya, yaitu Kunti berhasil meloloskan diri dari maut.
Widura berusia sangat panjang. Sementara itu putranya, yaitu Sanjaya gugur dalam perang Bharatayuda melawan Karna. Widura meninggal dunia saat bertapa di dalam hutan, ketika Pandawa telah berhasil mendapatkan kembali kekuasaan atas negeri Hastina pasca tertumpasnya Korawa.
Basudewa mempunyai adik dua orang. Yang perempuan adalah Kunti (Ibu Pandawa) dan yang lelaki adalah Srutadewa atau Srutasrawas (Ayah dari Sisupala, yang kemudian menjadi musuh bebuyutan Kresna dan terbunuh oleh Krisna saat upacara Rajasurya di Istana Indraprasta yang diselenggarakan oleh Yudistira).
Mereka termasuk ke dalam wangsa Yadawa (nenek moyang mereka adalah Yadu atau kadang juga disebut Surasena, karena ada leluhur mereka yang juga terkemuka namanya). Termasuk bangsa Yadawa adalah wangsa Wresni, Andhaka, dan Bhoja. Wrêsni adalah seorang keturunan Yadu dalam Wangsa Yadawa. Wresni lahir sebagai putera sulung Maharaja Madhu dari generasi ke-19 keturunan Yadu, sang putera Yayati. Wangsa Wresni adalah keturunan Wresni. Kresna masuk ke dalam percabangan Chandrawangsa keturunan Wresni dan dari sanalah ia mendapat nama Warshneya. Rakyat Dwaraka dikenal sebagai Wangsa Wresni. Ibukota wangsa-wangsa ini adalah Mathura yang dipimpin oleh Ugrasena.
Dalam Bhagawata Purana dikisahkan, ada seorang rakshasa yang terbang di atas kota Mathura dan terpesona melihat Padmawati istri Ugrasena yang cantik luar biasa. Raksasa itu kemudian menjelma menjadi Ugrasena dan bersetubuh dengan Padmawati. Dari hubungan itu lahirlah Kamsa. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenyataan ini, termasuk Kamsa sendiri.
Kamsa mempunyai dua orang kepercayaan yaitu Banasura, yang sering menganjurkan untuk merebut tahta. Canur, yang menyarankan agar Kamsa menikahi dua orang puteri Jarasanda raja Kerajaan Magadha, yang juga sahabat Banasura. Nama kedua putri itu adalah Asti dan Prapti. Kamsa akhirnya menantu dan sekutu Jarasanda. Pasukan Magadha yang dikirim Jarasanda untuk mengawal kedua putri digunakan Kamsa untuk memaksa Ugrasena turun dari takhta Mathura. Ugrasena kemudian dijebloskan ke dalam penjara istana. Kamsa mewarisi tahta Mathura setelah menjebloskan ayahnya, yaitu Raja Ugrasena ke Penjara.
Kamsa memiliki sepupu bernama Dewaki yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dewaki menikah dengan Basudewa dan pernikahan mereka dirayakan secara meriah oleh Kamsa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit bahwa kelak Kamsa akan mati di tangan anak Dewaki. Sebelumnya Basudewatelah mempunyai Istri bernama Rohini
Karena takut ramalan itu menjadi kenyataan, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke penjara Setelah itu setiap Dewaki melahirkan anak Ia ambil dan bunuh jabang bayi tersebut. Sudah 6 anak Dewaki tewas di bunuh oleh kakak kandungnya.
Di saat kehamilan Dewaki yang ke 7, Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini, istri pertama Basudewa, yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”. Balarama berkulit putih,
Di saat kehamilan Dewaki yang ke 8. Para Dewa membuat semua penjaga penjara tertidur, pintu penjara terbuka dan Basudewa dengan mudah diseundupkan keluar keluar dan dititipkan kepada kepada Yasoda dan Nanda atau Nadagopa di Gokula, Mahavana. Setelah itu, Basudewa membawa bayi perempuan anak Nandagopa kembali ke penjara. Esok paginya, Kamsa datang ke penjara untuk membunuh bayi Dewaki yang baru lahir. Ketika melihat bayi tersebut ternyata perempuan, ia pun merasa menang atas ramalan dewata. Sri Kresna lahir pada tanggal 19 Juli tahun 3228 SM. Krisna artinya “hitam” atau “gelap” Ia berkulit warna kulit gelap bersemu biru langit [Brahma Samhita 5.30].
Setelah Balarama dan Krisna Lahir, Akhirnya Rohini mempunyai anak sendiri, perempuan yang bernama Subadra, Ia berkulit Putih
Bayi yang dilahirkan oleh Rohini dan Dewaki masing-masing tumbuh menjadi pemuda bernama Balarama dan Kresna. Keduanya dibesarkan oleh pasangan Nandagopa dan Yasoda di lingkungan pedesaan. Kamsa akhirnya mengetahui keberadaan keduanya. Mereka pun diundang ke Mathura untuk menghadiri pesta perayaan. Ketika keduanya tiba di Mathura, Kamsa mencoba untuk membunuh mereka. Namun ramalan dewata benar-benar menjadi kenyataan. Dalam sebuah perkelahian, justru Kresna yang berhasil membunuh Kamsa.
Versi Jawa
Dalam pewayangan Jawa, Kamsa dieja dengan sebutan Kangsa, dan merupakan anak Basudewa raja Kerajaan Mandura. Adapun Ugrasena versi Jawa bukanlah mertua Basudewa, melainkan adik bungsunya. Dikisahkan, Basudewa memiliki empat orang istri, yaitu Mahira, Rohini, Dewaki, dan Badraini. Suatu hari ketika Basudewa berburu di hutan, muncul seorang raja raksasa dari Kerajaan Guargra, bernama Gorawangsa yang menyamar sebagai dirinya dan bersetubuh dengan Mahira. Hal ini diketahui oleh Rukma adik Basudewa. Gorawangsa pun dibunuhnya.
Basudewa yang mendengar laporan Rukma segera membuang Mahira ke hutan. Di sana ia melahirkan Kangsa dengan bantuan seorang pendeta raksasa bernama Anggawangsa. Mahira sendiri kemudian meninggal dunia. Bayi Kangsa diubah menjadi dewasa dalam sekejap oleh Anggawangsa. Kangsa kemudian mendatangi Basudewa di Mandura untuk minta diakui sebagai anak. Kebetulan saat itu Mandura diserang oleh Suratrimantra adik Gorawangsa yang ingin menuntut balas. Kangsa berhasil mengalahkan Suratrimantra dan mendapat pengakuan dari Basudewa.
Basudewa yang cemas melihat ambisi dan kesaktian Kangsa memutuskan untuk menitipkan anak-anaknya, yaitu Baladewa, Kresna, dan Subadra kepada pembantunya yang tinggal di desa Widarakandang, bernama Antagopa dan Sagopi.
Sementara itu, Kangsa telah diberi kedudukan sebagai adipati di Sengkapura oleh Basudewa. Suratrimantra yang kini mengabdi sebagai patih memberi tahu Kangsa bahwa ia sebenarnya adalah anak kandung Gorawangsa. Kangsa pun memutuskan untuk merebut takhta dari tangan Basudewa.
Kangsa juga mengetahui kalau anak-anak Basudewa disembunyikan di Widarakandang. Ia mengirim prajurit untuk membunuh mereka. Namun karena tidak ada, yang jadi sasaran adalah Antagopa, yang ditangkap dan dibawa ke tempat Kangsa. Sedangkan Sagopi dan Subadra berhasil meloloskan diri. Sagopi dan Subadra yang dikejar prajurit Kangsa berhasil diselamatkan oleh Arjuna keponakan Basudewa. Mereka juga bertemu Baladewa dan Kresna yang masing-masing baru saja berguru ilmu kesaktian. Bersama-sama mereka menuju tempat Kangsa untuk membebaskan Antagopa.
Kangsa sendiri menantang Basudewa untuk mengadu jago. Jika jagoan Basudewa kalah, ia harus menyerahkan takhta Mandura kepada Kangsa. Jagoan Kangsa tidak lain adalah Suratrimantra, sementara jagoan Basudewa adalah Bimasena, kakak Arjuna.
Dalam pertandingan di atas panggung, Bima berhasil mengalahkan Suratrimantra. Namun begitu melihat Baladewa datang, Suratrimantra segera turun untuk membunuhnya. Baladewa dengan cepat lebih dulu membunuh raksasa itu.
Melihat kematian pamannya, Kangsa segera menangkap Baladewa. Kresna mencoba menolong tapi ikut tertangkap pula. Keduanya dicekik sampai lemas. Untuk menolong kedua kakaknya, Subadra berdiri di hadapan Kangsa. Kangsa pun terpesona sehingga lengah. Arjuna pun memanah dadanya, sehingga Baladewa dan Kresna pun terlepas. Pada saat itulah Baladewa dan Kresna bangkit menyerang Kangsa dengan senjata masing-masing. Kangsa pun tewas. Peristiwa ini dalam pewayangan dikenal dengan kisah Kangsa Adu Jago.
Kangsa meninggalkan gada yang sangat berat bernama Rujakpolo dan tidak ada seorang pun yang bisa memindahkannya, kecuali Bimasena. Oleh karena itu, gada pusaka tersebut kemudian menjadi milik Bima.
Baladewa atau Balarama, disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak dari Kresna. Dalam filsafat Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di India selatan, ia dipuja sebagai awatara keenam dari Maha Awatara dan termasuk salah satu dari 25 awatara dalam Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan umat Hindu, ia merupakan manifestasi dari Sesa, ular suci yang menjadi ranjang Dewa Wisnu. Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut “Krishna-Balarama”. Di penitisan Wisnu sebelumnya yaitu Rama, maka Baladewa adalah Laksmana. Pada zaman Kali, beliau menitis sebagai Nityananda, sahabat Sri Caitanya.
Nanda, Ayah tiri Krisna mengundang Resi (muni) Garga, untuk memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Upacara itu dilakukan secara rahasia agar tidak diketahui dan dicurigai Kamsa.
“Karena Balarama, putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana’- [Bhagawatapurana, 10.8.12]
Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan Rewati, puteri Raiwata dari Anarta.
Baladewa bersenjata bajak dan gada. Ia yang mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Namun, ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Kresna kemudian menyadarkan Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.
Versi Jawa
Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Madura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.
Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.
Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.
Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.
Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.
Krishna, Adik dari Balarama disebut pula Nārāyana, yaitu sebutan yang merujuk kepada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha. Nama lain dari Krisna adalah Achyuta (yang tak pernah gagal), Arisudana (penghancur musuh), Bhagavān (kepribadian Yang Maha Esa), Gopāla (Pengembala sapi), Govinda (Pemberi kebahagiaan pada indria-indria), Hrishikesa (penguasa indria), Janardana (juru selamat), Kesava (yang berambut indah), Kesinishūdana (pembunuh raksasa Kesin), Mādhava (suami Dewi Laksmi), Madhusūdana (penakluk raksasa Madhu), Mahābāhu (yang berlengan perkasa), Mahāyogi, Purushottama (Manusia utama, awal mula), Varshneya (keturunan wangsa Wresni), Vāsudeva (putera Basudewa), Vishnu , Yādava (keturunan dinasti Yadu), Yogesvara (Penguasa segala kekuatan batin)
“Dewa Brahma memberitahu para Dewa: Sebelum kami menyampaikan permohonan kepada Beliau, Beliau sudah sadar terhadap kesengsaraan di muka bumi. Maka dari itu, selama Beliau turun ke bumi demi menuntaskan kewajiban dengan memakai kekuatan-Nya sendiri sebagai sang waktu, wahai kalian para Dewa semuanya akan mendapat bagian untuk menjelma sebagai para putera dan cucu dari keluarga Wangsa Yadu”.- [Bhagavata Purana 10.1.22]
Kresna dipuja sebagai awatara Wisnu yang kedelapan. Wisnu dianggap sebagai Awal dari semua Reinkarnasi [Bhagavata Purana 10.1.22]. Kemahakuasaan Tuhan sewaktu Perang di Kurukhsetra disaksikan oleh tiga orang yaitu: Arjuna, Sanjaya, dan Byasa. Namun Sanjaya dan Byasa tidak melihat secara langsung, melainkan melalui mata batin mereka yang menyaksikan perang Bharatayuddha. Berikut kutipan dari BhagavadGita yang menggambarkan siapa Krisna:
Kutipan Terjemahan
yadā yadā hi dharmasya, glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmanaṁ sṛjāmy aham
Kapan pun kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itu Aku turun menjelma, wahai keturunan Bharata (Arjuna)
paritrāṇāya sādhūnāṁ, vināśāyā ca duṣkṛtām, dharma-saṁsthāpanārthāẏa, sambhavāmi yuge yuge Untuk menyelamatkan orang saleh dan membinasakan orang jahat, dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman
aham ātmā guḍākeśa sarva-bhūtāśaya-sthitaḥ, aham ādiś ca madhyaṁ ca bhūtānām anta eva ca
O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk
purodhasāṁ ca mukhyaṁ māṁ viddhi pārtha bṛhaspatim, senāninām ahaṁ skandaḥ, sarasām asmi sāgaraḥ Wahai Arjuna, di antara semua pendeta, ketahuilah bahwa Aku adalah Brihaspati, pemimpinnya. Di antara para panglima, Aku adalah Kartikeya, dan di antara segala sumber air, Aku adalah lautan
prahlādaś cāsmi daityānāṁ, kālaḥ kalayatām aham mṛgāṇāṁ ca mṛgendro ‘haṁ vainateyaś ca pakṣiṇām
Di antara para Detya, Aku adalah Prahlada, yang berbakti dengan setia. Di antara segala penakluk, Aku adalah waktu. Di antara segala hewan, Aku adalah singa, dan di antara para burung, Aku adalah Garuda.
dyūtaṁ chalayatām asmi tejas tejasvinām aham jayo ‘smi vyavasāyo ‘smi sattvaṁsattvavatām aham Di antara segala penipu, Aku adalah penjudi. Aku adalah kemulian dari segala sesuatu yang mulia. Aku adalah kejayaan, Aku adalah petualangan, dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat
vṛṣṇīnāṁ vāsudevo ‘smi pāṇḍavānām dhanañjayaḥ, munīnām apy ahaṁ vyāsaḥkavīnām uśanā kaviḥ Di antara keturunan Wresni, Aku ini Kresna. Di antara Panca Pandawa, Aku adalah Arjuna. Di antara para Resi, Aku adalah Wyasa. Di antara para ahli pikir yang mulia, aku adalah Usana.
Ayah angkat Krisna adalah Nanda merupakan pemimpin di komunitas para pengembala sapi, dan ia tinggal di Vrindavana. Kamsa yang mengetahui bahwa Kresna telah kabur terus mengirimkan raksasa (seperti misalnya Agasura) untuk membinasakannya. Sang raksasa akhirnya terkalahkan di tangan Kresna dan kakaknya, Baladewa. Beberapa di antara kisah terkenal tentang keberanian Kresna terdapat dalam petualangan ini serta permainannya bersama para gopi (pengembala perempuan) di desa, termasuk Radha. Kisah yang menceritakan permainannya bersama para gopi kemudian dikenal sebagai Rasa lila.
Kresna yang masih muda kembali ke Mathura, dan menggulingkan kekuasaan pamannya – Kamsa – sekaligus membunuhnya. Kresna menyerahkan tahta kembali kepada ayah Kamsa, Ugrasena, sebagai Raja para Yadawa. Ia sendiri menjadi pangeran di kerajaan tersebut. Lokasi dimana Kresna adalah India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana, Delhi, dan Gujarat. Kerajaan Kuru, tempat saudara sepupunya (Pandawa) tinggal di sisi lain Yamuna.
Setelah Krisna membunuh Kamsa, ayah mertua Kamsa yaitu Jarasanda memupuk kebencian pada Kresna dan berambisi untuk membunuhnya. Melihat kondisi menyedihkan yang terjadi kepada dua puterinya yang menjadi janda, Jarasanda bersumpah akan menyerang Mathura dan merebut kerajaan tersebut.
Jarasanda, ayah mertua Kamsa, menyerang Mathura dengan pasukan besar; dan walaupun Kresna menghancurkan pasukan raksasa tersebut, asura yang lain, Kalayawan namanya, juga mengepung Mathura dengan pasukan lain yang berjumlah tiga juta setan ganas. Kemudian Kresna berpikir bahwa lebih baik mereka mengungsi ke Dwaraka. (di masa sekarang disebut Gujarat).
Versi Buddhis, Sutta pitaka, Jataka no 454, Ghata Jataka, yang merupakan kisah kehidupan sebelumnya dari Sang Buddha
Dahulu kala, seorang raja yang bernama Mahakansa berkuasa di Uttarāpatha, di wilayah Kaṃsa dalam kota Asitañjanā. Ia mempunyai dua anak laki-laki, Kaṃsa dan Upakaṃsa, dan satu anak perempuan yang bernama Devagabbhā. Di hari ulang tahun putrinya, para brahmana meramalkan kejadian masa depannya: “Anak laki-laki yang dilahirkan oleh wanita ini suatu hari akan menghancurkan negeri ini dan garis keturunan Kaṃsa.”
Raja sangat menyayangi putrinya sehingga tidak tega untuk membunuhnya, ia membiarkan saudara-saudaranya yang mengatasi masalah ramalan ini, menjalani sisa hidupnya dan kemudian meninggal. Setelah ia meninggal, Kaṃsa menjadi raja dan Upakaṃsa menjadi wakil raja. Mereka berdua berpikir bahwa akan terjadi protes keras bila mereka membunuh saudara perempuannya, jadi mereka memutuskan untuk tidak menikahkan dirinya kepada pemuda manapun, dan agar rencana ini dapat berjalan dan dapat diawasi, mereka membangun sebuah menara untuk ia tinggal.
Putri tersebut mempunyai seorang pelayan wanita yang bernama Nandagopā, dan suami pelayan wanita tersebut Andhakaveṇhu, yang bertugas menjaganya. Pada waktu itu seorang raja yang bernama Mahāsāgara berkuasa di Upper Madhurā, dan ia mempunyai dua orang putra, Sāgara dan Upasāgara.
Setelah ayah mereka meninggal, Sāgara menjadi raja dan Upasāgara menjadi wakil raja. Pemuda ini adalah teman dari Upakaṃsa, besar bersama dengannya dan diajar oleh guru yang sama pula. Akan tetapi ia memiliki hubungan gelap dengan istri abangnya, dan melarikan diri ke wilayah Kaṃsa mencari Upakaṃsa sewaktu hubungannya itu diketahui oleh abangnya.
Upakaṃsa memperkenalkannya kepada Kaṃsa, dan raja memberikannya kedudukan yang tinggi di sana. Di masa Upasāgara melayani raja, ia mengamati menara tempat Devagabhā. Di saat bertanya siapa gerangan yang tinggal di dalam menara tersebut, ia mengetahui tentang ceritanya dan menjadi jatuh cinta kepada wanita tersebut.
Pada suatu hari, Devagabhā melihatnya ketika ia berangkat dengan Upakaṃsa untuk menjumpai raja. Ia bertanya kepada Nandagopā siapa pemuda itu, dan sewaktu diberitahu bahwa itu adalah Upasāgara, putra dari raja agung Sāgara, ia juga menjadi jatuh cinta kepadanya.
Upasāgara memberikan sesuatu kepada Nandagopā sambil berkata, “Saudari, Anda dapat mengatur pertemuanku dengan Devagabhā.”
Nandagopā berkata, “Cukup mudah,” dan ia pun memberitahukan putri tentang hal ini. Putri yang memang sudah jatuh cinta kepadanya langsung menyetujuinya. Suatu malam Nandagopā mengatur sebuah janji pertemuan, dan membawa Upasāgara masuk ke dalam menara tersebut; di sana ia tinggal berdua dengan Devagabhā.
Dikarenakan hubungan intim terus menerus yang dilakukan mereka, Devagabhā menjadi hamil. Keadaan ini pun segera diketahui dan kedua saudara laki-lakinya bertanya kepada Nandagopā. Ia membuat mereka berjanji memaafkannya terlebih dahulu, kemudian menceritakan seluk beluk masalah tersebut.
Setelah mendengar ceritanya, mereka berpikir, “Kita tidak mungkin membunuh adik. Bila ia melahirkan seorang anak perempuan, kita biarkan ia hidup; tetapi bila ia melahirkan seorang anak laki-laki, kita akan membunuhnya.”
Dan mereka pun menjadikan Devagabhā sebagai istri dari Upasāgara. Di saat tiba waktunya, ia melahirkan seorang anak perempuan. Kedua saudara laki-lakinya merasa senang sewaktu mendengar kabar ini, dan memberinya nama Putri Añjanā.
Mereka juga memberikan sebuah desa kepada adiknya sebagai tempat tinggal, yang disebut Govaḍḍhamāna. Upasāgara membawa Devagabhā tinggal bersama di desa tersebut. Tidak lama kemudian Devagabhā hamil lagi, dan Nandagopā juga mengandung.
Di saat waktunya tiba, mereka melahirkan anak pada waktu yang sama, Devagabhā melahirkan seorang putra dan Nandagopā melahirkan seorang putri. Tetapi Devagabhā yang merasa takut anak laki-lakinya itu akan dibunuh, mengirimnya kepada Nandagopā dan mengambil anak perempuan Nandagopā sebagai anaknya. Mereka memberitahukan kedua saudara laki-lakinya tentang kelahiran tersebut.
“Putra atau putri?” tanya mereka.
“Putri,” jawabnya.
“Kalau begitu, besarkanlah anak tersebut,” kata dua saudara itu. Dengan cara yang sama Devagabhā melahirkan sepuluh orang putra dan Nandagopā melahirkan supuluh orang putri. Semua putra tersebut tinggal dengan Nandagopā dan semua putri tersebut tinggal dengan Devagabhā. Tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia ini.
Putra sulung Devagabhā diberi nama Vāsu-deva, yang kedua Baladeva, ketiga Canda-deva, keempat Suriya-deva, kelima Aggi-deva, keenam Varuṇa-deva, ketujuh Ajjuna, kedelapan Pajjuna, kesembilan Ghata-paṇḍita, dan yang kesepuluh Aṁkura.
Mereka terkenal sebagai sepuluh putra dari Andhakaveṇhu si pelayan, Sepuluh Saudara Laki-laki. Seiring berjalannya waktu mereka menjadi tumbuh dewasa, kuat, kejam dan ganas. Mereka berkeliaran merampas barang milik orang lain, mereka bahkan merampas barang yang akan diberikan kepada raja. Orang-orang datang berbondong-bondong ke halaman istana raja sambil mengeluhkan, “Putra-putra Andhakaveṇhu, Sepuluh Saudara Laki-laki merampas seisi desa!”
Maka raja menyuruh pengawal untuk membawa Andhakaveṇhu dan mengecamnya karena membiarkan anak-anaknya melakukan perampasan. Tiga atau empat kali dibuat keluhan ini dengan cara yang sama, dan raja mulai mengancam dirinya.
Andhakaveṇhu merasa takut kehidupannya yang aman itu akan hilang, memberitahukan rahasianya, bahwasannya mereka itu bukan putra-putranya, melainkan putra-putra dari Upasāgara. Raja menjadi terkejut.
“Bagaimana kita dapat melawan mereka?” ia bertanya kepada para menteri di istananya.
Mereka menjawab, “Paduka, mereka adalah pegulat. Mari kita adakan sebuah pertandingan gulat di kota, dan ketika mereka masuk ke dalam arena, kita tangkap dan bunuh mereka.”
Maka mereka pun memanggil dua orang pegulat Muṭṭhika, dan membuat pengumuman di seluruh kota dengan membunyikan drum, ”bahwasannya akan ada pertandingan gulat di hari ketujuh.”
Arena pertandingan itu disiapkan di depan istana raja; dibuat pagar untuk pertandingan tersebut, arenanya dihiasi dengan indah, bendera-bendera kemenangan disiapkan. Seluruh isi kota sangat berantusias, baris demi baris tempat duduk
penuh, deret demi deret juga.
Cānura dan Muṭṭhika masuk ke dalam arena dan berkeliling di dalamnya dengan sombong, melompat-lompat, berteriak, menepuk tangan mereka. Sepuluh Saudara tersebut datang juga.
Sebelumnya di dalam perjalanan, mereka merampas pakaian tukang cuci dan mengambil jubah yang berwarna cerah, dan mencuri minyak wangi dari toko, kalung bunga dari toko bunga; dengan tubuh mereka yang telah diberi wewangian, kalung bunga di kepala, anting-anting di telinga, mereka berjalan masuk dengan sombong ke dalam arena, melompat-lompat, berteriak, dan menepuk tangan mereka.
Pada waktu itu, Cānura jalan mengitari dan menepuk tangannya. Baladeva yang melihatnya, berpikir, “Saya tidak akan menyentuh orang yang ada di sana dengan tanganku!” maka dengan mengambil sabuk dari dalam kandang gajah, sambil melompat dan berteriak, ia melemparkannya di sekeliling perut Cānura dan mengikat kedua ujung sabuk tersebut, memegangnya dengan ketat, kemudian mengangkatnya, memutarnya di atas kepala, dan mencampakkannya ke tanah dengan kuat sampai keluar dari arena.
Setelah Cānura mati, raja mengeluarkan Muṭṭhika. Muṭṭhika naik ke dalam arena, melompat-lompat, berteriak dan menepuk tangannya. Baladeva menghantamnya dan menusuk matanya; dan di saat ia berteriak—“Saya bukan seorang pegulat! Saya bukan seorang pegulat!” Baladeva mengunci tangannya sambil berkata, “Pegulat atau bukan, tidak ada bedanya bagiku,” dan dengan kuat mencampakkannya ke tanah, membunuhnya dan melemparnya keluar dari arena.
Muṭṭhika di saat menjelang kematiannya, mengucapkan sebuah permohonan—“Semoga nantinya saya menjadi yakkha dan memakan dirinya!” Dan ia pun menjadi yakkha di sebuah hutan yang dikenal dengan nama Kāḷamattiya.
Raja berkata, “Bawa pergi Sepuluh Saudara tersebut.” Pada saat itu juga, Vāsudeva melemparkan sebuah senjata roda [cakra] yang menjerat putus kepala dari dua bersaudara [Raja dan saudaranya] itu. Kerumunan orang yang melihat ini menjadi ketakutan, berlutut, dan memintanya menjadi pelindung mereka.
Demikianlah Sepuluh Saudara itu menguasai kota Asitañjanā setelah membunuh kedua paman mereka sendiri, dan membawa orang tuanya pindah ke sana. Kemudian mereka pergi ke luar dari istana dengan tujuan menguasai seluruh India.
Tidak berapa lama berjalan, mereka tiba di kota Ayojjhā, tempat kekuasaan raja Kāḷasena. Mereka mengitari kota ini dan menghancurkan pepohonan di sekitarnya, merobohkan dinding dan menawan raja, serta mengambil alih kedaulatan dari tempat itu.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Dvāravatī. Kota ini berbatasan dengan laut di satu sisi dan di sisi yang lain adalah pegunungan. Dikatakan bahwa tempat itu ada yakkha-nya. Sang yakkha berjaga-jaga di sana, dan di saat melihat musuh datang, akan mengubah wujudnya menjadi seekor keledai dan mengeluarkan suara ringkikan keledai.
Segera, kota itu berada melayang di udara dan menempatkan dirinya di pulau yang ada di tengah laut tersebut dengan kekuatan gaib sang yakkha itu; dan di saat musuh telah pergi, kota itu akan kembali ke tempat semulanya. Kali ini sama seperti biasanya, di saat keledai melihat kedatangan Sepuluh Saudara, ia mengeluarkan suara ringkikan keledai. Kota itupun langsung melayang di udara dan pindah ke pulau di tengah laut itu. Mereka tidak melihat kota apapun dan kembali. Kemudian kota itu kembali ke tempat semulanya. Mereka berbalik kembali—keledai itu juga mengucapkan hal yang sama seperti sebelumnya.
Kedaulatan di kota Dvāravatī tidak dapat mereka ambil alih. Maka mereka pergi mengunjungi Kaṇha-dipāyana dan berkata:
“Tuan, kami gagal mengambil alih kerajaan Dvāravatī. Beritahu kami cara untuk menaklukkannya.”
Ia berkata, “Di dalam saluran air, di dalam sebuah tempat seperti itu, ada seekor keledai yang berjaga. Ia meringkik di saat melihat musuh, dan kota itu dengan cepat akan melayang di udara. Kalian harus bersujud di kakinya, itulah caranya untuk menaklukkannya.”
Kemudian mereka pamit kepada petapa tersebut dan pergi menjumpai keledai itu. Dengan bersujud kepadanya, mereka berkata, “Tuan, hanya Anda yang dapat membantu kami! Di saat kami datang untuk mengambil alih kota, mohon Anda jangan mengeluarkan suara ringkikan!”
Keledai itu menjawab, “Saya tidak dapat menahan suara ringkikanku. Akan tetapi, jika empat dari kalian datang dengan membawa bajak besi yang besar dan menggali lubang untuk tempat tonggak besi di keempat pintu gerbang kota kemudian mengaitkan rantai besi yang diikatkan ke bajak tadi pada tiang itu, ia tidak akan dapat melayang di udara.”
Mereka berterima kasih kepada keledai tersebut; dan ia tidak mengeluarkan suara ringkikan di saat mereka mengambil bajak dan meletakkan tiang di dalam lubang yang dibuat di empat pintu gerbang kota, kemudian ia berdiri sambil menunggu. Tidak lama setelah itu, keledai tersebut meringkik dan kota tersebut mulai melayang. Tetapi mereka yang berdiri di keempat gerbang masing-masing dengan bajak besi yang terikat dengan rantai besi yang dikaitkan ke tiang, membuat kota tersebut tidak dapat melayang di udara.
Saat itu juga, Sepuluh Saudara tersebut masuk ke dalam kota, membunuh rajanya dan mengambil alih kerajaan. Demikian caranya mereka menaklukkan seluruh India, dan di tiga ratus enam puluh ribukota mereka membunuh para rajanya dengan senjata cakra.
Dan akhirnya mereka tinggal di Dvāravatī, dengan membagi kerajaannya menjadi sepuluh bagian, tetapi mereka melupakan adik perempuannya, Putri Añjanā. Maka mereka berkata, “Mari kita membaginya menjadi sebelas bagian.”
Tetapi Aṁkura menjawab, “Berikan saja bagianku kepadanya. Saya akan mengerjakan hal yang lain untuk bertahan hidup; hanya saja kalian harus mengirimkan pajak masing-masing dari kerajaan kalian kepadaku.” Mereka menyetujuinya dan memberikan bagiannya kepada adik perempuan mereka. Dan mereka tinggal Dvāravatī bersama dengannya, sembilan raja, sedangkan Aṁkura melakukan usaha perdagangan.
Seiring dengan berjalannya waktu, mereka dikaruniai dengan putra dan putri. Setelah waktu yang lama berlalu, orang tua mereka pun meninggal. Dikatakan bahwa pada waktu itu, usia seseorang mencapai dua puluh ribu tahun.
Jarasanda, secara berarti “disatukan oleh Jara”. Ayahnya bernama Brihadata. Karena Raja Brihadata dari Kerajaan Magadha tidak memiliki keturunan, ia memutuskan untuk meninggalkan kerajaannya dan hidup di hutan sebagai petapa. Di hutan, ia melayani seorang resi yang bernama Candakosika. Sang resi merasa kasihan kepada Brihadata yang tidak memiliki keturunan. Akhirnya, sang resi memberikan satu buah ajaib untuk dimakan oleh permaisuri Brihadata. Karena sang resi tidak tahu bahwa Brihadata memiliki dua permaisuri, maka ia hanya memberikan satu buah saja.
Ketika pulang ke istananya, Brihadata memotong buah ajaib pemberian resi Candakosika lalu membaginya kepada dua permaisurinya. Beberapa bulan kemudian, kedua permaisuri Brihadata melahirkan anak, namun badannya hanya separuh saja serta tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena takut, Brihadata memutuskan untuk membuang bayinya ke tengah hutan. Seorang raksasi bernama Jara memungut bayi tersebut dan menyatukan tubuhnya. Saat disatukan, bayi tersebut hidup dan menangis keras. Sang raksasi yang merasa kasihan, menyerahkan bayi tersebut kepada raja dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Brihadata menamai bayi tersebut Jarasanda, yang secara harfiah berarti “disatukan oleh Jara”.
Saat Candakosika tiba di istana Brihadata, ia melihat si bayi dan meramal bahwa Jarasanda akan memperoleh anugerah istimewa, dan akan terkenal sebagai pemuja Siwa.
Jarasanda tumbuh menjadi raja yang terkenal dan amat kuat, senang memperluas wilayah kerajaannya. Ia menaklukkan banyak raja, dan diberi gelar Maharaja Magadha. Sementara kekuatannya terus bertambah, ia merasa cemas memikirkan masa depannya karena tidak memiliki pewaris tahta. Atas nasihat sahabatnya yaitu Banasura, maka Jarasanda mempersembahkan dua puterinya, Asti dan Prapti, untuk dinikahkan kepada putera mahkota Mathura, yaitu Kamsa. Jarasanda juga meminjamkan pasukan dan penasihatnya kepada Kamsa.
Jarasendra berusaha menyerang Mathura namun usahanya gagal saat Mathura dipimpin Ugrasena, yang didukung oleh Basudewa, penasihat militer Akrura, ditambah kekuatan Kresna dan Baladewa. Jarasanda tidak juga menyerah hingga ia menyerang Mathura untuk yang kedelapan belas kali. Dalam serangannya yang kedelapan belas, ia dibantu oleh Raja Sisupala dari Kerajaan Chedi, dan Raja Kalayawana dari Paschimadesa. Setelah serangan terakhir dari Jarasanda, Kresna memberi saran kepada Raja Ugrasena dan ayahnya untuk mengungsi dan mendirikan kerajaan baru di Dwaraka. Hal itu dilakukan karena alasan strategi peperangan.
Pada suatu hari, Kresna menerima pesan rahasia dari Magadha. Seseorang meminta bantuan Kresna untuk membebaskan para raja yang dipenjara oleh Jarasanda di benteng Giribraja. Karena Kresna tahu bahwa Jarasanda tidak mudah dikalahkan dalam peperangan, maka ia pergi ke Indraprastha untuk meminta bantuan Bima and Arjuna. Mereka pergi menghadap Jarasanda dengan cara menyamar menjadi tiga brahmana. Saat Jarasanda menjamu mereka dan meminta apa yang mereka butuhkan, ketiga brahmana meminta agar Jarasanda bertarung dengan salah seorang di antara mereka. Setelah melakukan pertimbangan, Jarasanda memilih Bima.
Jarasanda menolak untuk membebaskan para raja yang ditawannya, sehingga ia menerima tantangan duel dan memilih Bima. Pertarungan berlangsung lama sekali, sekitar 27 hari. Untuk mengakhiri pertarungan secepatnya, Kresna memberi isyarat kepada Bima. Ia mengambil sehelai daun, lalu menyobeknya menjadi dua dan melemparnya ke arah yang berlawanan. Bima melihat apa yang dilakukan Kresna dan ia mengerti maksud isyarat tersebut. Akhirnya, Bima menarik kaki Jarasanda, menyobek tubuhnya menjadi dua bagian dan melempar potongan tubuh tersebut ke arah yang berlawanan. Setelah kematian Jarasanda, segala raja yang ditawan dapat dibebaskan. Kresna mengangkat putera Jarasanda yang bernama Sahadewa menjadi raja. Sifat anak ini berbeda dengan ayahnya, sehingga Magadha menjadi sekutu Indraprastha.
Istri-istri krisna yang terkemuka adalah Radha, Rukmini (Putri Bismaka dari kerajaan Widarbha), Satyabama, Jambawati, Mitrabinda, Satyabama, dan lain-lain, yang ia peroleh dengan perbuatan besar; misalnya Ketika Kresna memerintah di Dwaraka, Duryodana menindas para Pandawa di Hastinapura dan berusaha membinasakan mereka. Kresna dan Balarama pergi untuk membantu mereka, dan saat itu Kresna menikahi Kalindi, putera Sang Surya. Setiap istrinya melahirkan sepuluh putera dan seorang puteri.
Kisah lainnya adalah ketika seorang raksasa bernama Bomasura/Narakasura membawa kabur dan menawan ribuan puteri, Kresna megejarnya dan membunuhnya dan membebaskan mereka semua. Menurut adat yang keras pada waktu itu, seluruh wanita tawanan tidak layak untuk menikah, artinya akan ada ribuan putri yang tidak mempunyai kehormatan di pandangan masyarakat. Namun Krisna justru dengan tangan terbuka dan gembira menyambut mereka sebagai puteri bangsawan di kerajaannya serta menjadikan 16.100 Putri itu sebagai Istrinya. Dalam tradisi Waisnawa, para istri Kresna di Dwarka dipercaya sebagai penitisan dari berbagai wujud Dewi Laksmi.
Narakāsura/Bhaumāsura/Bomasura adalah raja raksasa dari Kerajaan Pragjyotisha atau yang di masa sekarang dikenal sebagai daerah Assam, di India Timur. Ia merupakan putra dari Pertiwi sehingga ia juga dikenal dengan sebutan Boma yang bermakna “anak Bumi”. Ayah dari Naraka adalah Waraha, salah satu awatara Wisnu saat menolong bumi dari bencana yang disebabkan oleh Hiranyaksa.
Dalam Bhagawatapurana, Naraka adalah putra Pertiwi (perwujudan dewi bumi) dengan Waraha, salah satu awatara Wisnu. Wisnu menjelma sebagai Waraha (babi hutan) untuk menolong Bumi yang ditenggelamkan Hiranyaksa ke dalam suatu lautan kosmik. Dengan menggunakan kedua taringnya, Waraha berhasil mengembalikan Bumi ke dalam orbitnya, serta membunuh Hiranyaksa.
Setelah peristiwa tersebut, Waraha menikahi Pertiwi (perwujudan Bumi). Dari perkawinan itu lahir Naraka yang berwujud asura.
Naraka memerintah Kerajaan Pragjyotisha dengan kejam. Ia mengalahkan banyak raja serta menawan putri-putri mereka, bahkan para dewa pun diserangnya. Karena merasa resah, Indra raja kahyangan melaporkan kejadian tersebut kepada Sri Kresna. Kresna berhasil menewaskan Naraka dengan menggunakan senjata Cakra Sudarsana. Setelah itu ia pun membebaskan para raja dan putri yang ditawan oleh asura tersebut.
Kresna kemudian mengangkat putera Naraka yang bernama Bhagadatta untuk menjadi raja Pragjyotisha selanjutnya. Tokoh Bhagadatta ini kemudian memihak Korawa saat meletus perang besar di Kurukshetra. Ia akhirnya tewas di tangan Arjuna pada hari ke-12.
Versi Bhomakawya
Kisah kematian Naraka dalam naskah Bhagawatapurana disadur dan dimodifikasi oleh pujangga Jawa dengan judul Bhomakawya, atau “Kematian Boma”. Naskah ini menggunakan bahasa Jawa Kuna dan ditulis pada zaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa.
Naraka atau Boma dikisahkan sebagai raja kejam dari Kerajaan Pragjyotisha yang suka mengganggu para pertapa. Ia memiliki seorang istri cantik bernama Yadnyawati, reinkarnasi seorang bidadari kahyangan. Perkawinan keduanya kurang harmonis karena Yadnyawati selalu berusaha menghindari suaminya itu.
Kresna raja Kerajaan Dwarawati mengirim putra sulungnya yang bernama Samba untuk melindungi para pertapa dari serangan para prajurit Boma. Dengan bantuan seorang bidadari bernama Tilottama, Samba berhasil menyusup ke dalam istana Pragjyotisha dan menemui Yadnyawati.
Kisah selanjutnya ialah Boma menyerang Kerajaan Dwarawati karena Samba telah membawa lari Yadnyawati. Dalam suatu pertempuran Boma berhasil menewaskan Samba. Namun ia sendiri akhirnya tewas di tangan Kresna.
Setelah perang berakhir, Kresna menghidupkan Samba kembali. Samba kemudian menikahi Yadnyawati dan keduanya hidup bahagia.
Versi Jawa
Dalam pewayangan Jawa, Prabu Kresna merupakan Raja Dwarawati, kerajaan para keturunan Yadu (Yadawa) dan merupakan titisan Dewa Wisnu. Kresna adalah anak Basudewa, Raja Mandura. Ia (dengan nama kecil “Narayana”) dilahirkan sebagai putera kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya dikenal sebagai Baladewa (alias Kakrasana) dan adiknya dikenal sebagai Subadra, yang tak lain adalah istri dari Arjuna. Ia memiliki tiga orang istri dan tiga orang anak. Istri isterinya adalah Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Satyabama. Anak-anaknya adalah Raden Boma Narakasura, Raden Samba, dan Siti Sundari.
Pada perang Bharatayuddha, beliau adalah sais atau kusir Arjuna. Ia juga merupakan salah satu penasihat utama Pandawa. Sebelum perang melawan Karna, atau dalam babak yang dinamakan Karna Tanding sebagai sais Arjuna, beliau memberikan wejangan panjang lebar kepada Arjuna. Wejangan beliau dikenal sebagai Bhagawadgita.
Kresna dikenal sebagai seorang yang sangat sakti. Ia memiliki kemampuan untuk meramal, mengubah bentuk menjadi raksasa, dan memiliki bunga Wijaya Kusuma yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati. Ia juga memiliki senjata yang dinamakan Cakrabaswara yang mampu digunakan untuk menghancurkan dunia, pusaka-pusaka sakti, antara lain Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, terompet kerang (Sangkala) Pancajahnya, Kaca Paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.
Setelah meninggalnya Prabu Baladewa (Resi Balarama), kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Wresni dan Yadawa, Prabu Kresna menginginkan moksa. Ia wafat dalam keadaan bertapa dengan perantara panah seorang pemburu bernama Jara yang mengenai kakinya.
Kresna dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Triwikrama, atau gelar Bhatara Wisnu yang dapat melangkah di tiga alam sekaligus. Ia juga dipandang sebagai perantara suara Tuhan dalam menjalankan misi sebagai juru selamat umat manusia, dan disetarakan dengan segala sesuatu yang agung.
Boma Narakasura, putra Batara Wisnu dengan Batari Pertiwi. Ia dilahirkan di Kahyangan Ekapratala tempat tinggal Batara Ekawarna, kakeknya dari pihak ibu. Menurut versi ini, nama kecil Boma adalah Sitija. Ia memiliki adik perempuan bernama Sitisundari yang kelak menjadi istri Abimanyu putra Arjuna dari keluarga Pandawa. Setelah dewasa, Sitija diminta para dewa untuk mengalahkan pamannya sendiri, yaitu Bomantara yang berani menyerang kahyangan. Dalam pertempuran tersebut Sitija berhasil membunuh Bomantara. Roh Bomantara kemudian bersatu dalam diri Sitija sehingga menambah kekuatannya.
Setelah kematian Bomantara, Sitija pun menjadi raja Kerajaan Surateleng bergelar Boma Narakasura. Ia mengganti nama negeri peninggalan pamannya itu menjadi Trajutrisna. Selanjutnya, Boma mendengar bahwa ayahnya, yaitu Wisnu, telah terlahir ke dunia sebagai manusia bernama Kresna raja Kerajaan Dwarawati. Setelah melalui perjuangan berat, Boma akhirnya mendapat pengakuan sebagai putra sulung Kresna.
Boma dilukiskan sebagai sosok antagonis yang sering terlibat persaingan dengan Gatutkaca putra Bimasena dari keluarga Pandawa. Meskipun demikian kematiannya tetap dikisahkan oleh tangan Kresna, “ayahnya” sendiri. Kematian Boma dalam pewayangan diadaptasi dari Kakawin Bhomakawya oleh para dalang, terutama Ki Narto Sabdo, namun dengan sedikit modifikasi sehingga lebih terkesan dramatis. Peristiwa tersebut dinamakan Gojalisuta atau perang antara ayah melawan anak.
Istri Boma disebut dengan nama Agnyanawati, putri Karentagnyana raja Kerajaan Giyantipura. Ia hanya mau melayani Boma asalkan dibuatkan jalan raya lurus tanpa berbelok dari Trajutrisna menuju Giyantipura. Boma merasa bimbang karena jalan tersebut pasti menerobos bukit Gandamadana, tempat leluhur Kresna dimakamkan. Atas pertimbangan ibunya, Boma akhirnya memutuskan untuk menolak permintaan Agnyanawati, bahkan ia bersedia menceraikan istrinya itu. Ternyata Agnyanawati telah dilarikan oleh Samba, putra Kresna yang lahir dari Jembawati. Namun Boma merelakannya, bahkan ia berencana untuk menikahkan keduanya.
Kresna di Dwarawati marah atas perilaku Samba yang berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri. Utusan Boma bernama Pancadnyana kemudian datang meminta kepada Kresna supaya menyerahkan Samba dan Agnyanawati untuk dinikahkan di Trajutrisna. Kresna merestui dan menyerahkan pasangan tersebut. Namun di tengah jalan Arjuna muncul merebut Samba dan Agnyanawati karena mencurigai keputusan Boma. Arjuna juga melukai Pancadnyana dan ia mengirim surat tantangan kepada Boma supaya merebut Samba dan Agnyanawati melalui pertempuran.
Boma marah membaca surat tantangan Arjuna. Ia pun memimpin pasukan menyerbu Kerajaan Dwarawati. Perang besar terjadi. Boma semakin marah karena dihasut kendaraannya yang berwujud burung raksasa bernama Wilmana. Dengan kejam, Boma membunuh Samba dan Agnyanawati serta memotong-motong tubuh mereka. Dalam pertempuran selanjutnya, Arjuna akhirnya mundur setelah dipermalukan di depan umum karena pakaiannya robek setelah diserang Wilmana, kendaraan Boma. Boma kemudian terlibat pertempuran sengit melawan Gatutkaca yang memihak Dwarawati.
Kresna muncul dan menyesali terjadinya perang. Ia pun melepaskan senjata Cakra Sudarsana ke angkasa agar para prajurit yang sedang berperang mengetahui kehadirannya dan segera menghentikan pertempuran. Namun peristiwa itu justru menyebabkan Boma mengalami kecelakaan fatal ketika hendak mendarat. Burung Wilmana yang dikendarainya silau melihat kilauan cahaya Cakra Sudarsana sehingga terbang tak terkendali dan akhirnya menabrak senjata tersebut. Akibatnya, Wilmana sekaligus Boma sama-sama tewas dengan tubuh hancur. Berbeda dengan Bhomakawya, dalam versi ini Kresna tidak menghidupkan Samba kembali. Ia merelakan kedua putranya tersebut tewas sebagai korban Perang Gojalisuta.
Subadra adalah puteri bungsu pasangan Basudewa dan Rohini (istri pertama Basudewa), Ia berkulit putih dan lahir setelah ayahnya Basudeva dibebaskan Krisna.
Saat Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu Yudistira yang sedang tidur dengan Dropadi, Dalam perjalanannya ia sampai di Dwaraka, yaitu kediaman sepupunya yang bernama Kresna, karena ibu Arjuna (Kunti) bersaudara dengan ayah Kresna (Basudewa). Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna menikahi Subadra. Pada saat itu status Arjuna adalah suami yang memiliki tiga istri, yaitu Dropadi, Citrānggadā, dan Ulupi. Krisna mengetahui Baladewa tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu.
Ia mengatur sedemikian rupa sehingga Arjuna mendapat perhatian dan simpati dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Krisna berperan menentang mereka tingga disana, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Di saat itu pulalah sebuah kereta sudah dipersiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.
Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa dan dengan menghajar Arjuna bukan hanya menghambat rencana kebesaran Bharatawarsa tapi juga akan membuat kesedihan yang mendalam Subadra adik yang mereka cintai. Baladewa juga mengetahui bahwa adiknya, yaitu Krisna turut ‘bermain’ dalam perkawinan ini akhirnya ia membuat keputusan dengan menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta. Maka Subadra menjadi istrinya arjuna yang keempat.
Subadra dan Arjuna memiliki seorang putera, bernama Abimanyu. Saat Pandawa kalah main dadu dengan Korawa, mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah masa penyamaran selama satu tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di Dwaraka sementara ayah mereka mengasingkan diri di hutan. Pada masa-masa itu Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya.
Di India, Subadra menjadi salah satu dari tiga dewa yang dipuja di Kuil Jagannath di Puri, bersama dengan kakaknya yang bernama Kresna (sebagai Jagannatha) dan Baladewa (atau Balarama, Balabhadra). Salah satu kereta dalam Ratha Yatra yang diselenggarakan secara tahunan didedikasikan untuknya. Menurut beberapa interpretasi, Subhadra dianggap sebagai inkarnasi dari YogMaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar